Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pendapatan Baidu Turun 7 Persen, Lebih Kecil dari Ekspektasi

Raksasa mesin pencarian, Baidu, melaporkan penurunan pendapatan yang lebih kecil dari proyeksi para analis dan menyampaikan proyeksi yang lebih optimistis untuk kuartal berjalan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 Mei 2020  |  08:14 WIB
Tan Su, Manajer Umum Baidu Internet of Vehicles; dan Kyowoong Choo, Direktur dan Kepala Grup Pengembangan Infotainment di Hyundai Motor.  - Hyundai
Tan Su, Manajer Umum Baidu Internet of Vehicles; dan Kyowoong Choo, Direktur dan Kepala Grup Pengembangan Infotainment di Hyundai Motor. - Hyundai

Bisnis.com, JAKARTA – Raksasa mesin pencarian, Baidu, melaporkan penurunan pendapatan yang lebih kecil dari proyeksi para analis dan menyampaikan proyeksi yang lebih optimistis untuk kuartal berjalan.

Penjualan perusahaan teknologi asal China tersebut turun 7 persen menjadi 22,5 miliar yuan (US$3,18 miliar) pada kuartal I/2020, dibandingkan dengan rata-rata perkiraan analis sebesar 21,9 miliar yuan.

Selain itu, Baidu memperkirakan tingkat pertumbuhan pendapatan sebesar -5 persen menjadi 4 persen pada kuartal saat ini.

“Dengan pandemi [Covid-19] yang terkendali di China, aktivitas I kembali pulih dan Baidu akan diuntungkan oleh dimulainya kembali perekonomian China,” ujar Chief Executive Officer dan co-founder Robin Li dalam sebuah pernyataan, dilansir Bloomberg, Selasa (19/5/2020).

Menyusul laporan tersebut, saham perusahaan melonjak 10 persen dalam sesi extended trading di New York pada perdagangan Senin (18/5/2020).

Kinerja Baidu menunjukkan bagaimana investasi pada konten-konten yang dirancang untuk mengadang pesaing seperti Tencent Holdings Ltd. dan ByteDance Ltd. mulai membuahkan hasil.

Baidu telah mencoba untuk mendiversifikasi sumber pendapatan iklannya sebagian karena pesaingnya itu mulai menyedot klien-klien ke format yang lebih interaktif seperti Douyin besutan Byte Dance, yang setara dengan TikTok.

Pernah memimpin dalam hal pencarian desktop, Baidu kini harus berjuang untuk tetap relevan di era mobile. Demi menangkis sepak terjang ByteDance, Baidu berencana untuk menawarkan subsidi kepada para influencer serta mengarahkan lebih banyak traffic kepada mereka di seluruh aplikasi keluarga, termasuk dalam live streaming.

Untuk jangka panjang, Baidu berinvestasi dalam teknologi kecerdasan buatan, serta bertaruh pada komersialisasinya melalui speaker pintar dan mobil self-driving.

Pada Maret, perusahaan memperoleh kontrak dari pemerintah daerah di kota-kota, termasuk Chongqing dan Hefei, untuk membangun infrastruktur transportasi yang cerdas seperti sensor jalan. Ini merupakan bagian dari upaya China untuk memacu perekonomian melalui investasi dalam teknologi.

Di sisi lain, tindak pengawasan oleh Beijing masih menimbulkan permasalahan. Pada April, regulator China menangguhkan beberapa saluran utama di aplikasi seluler Baidu karena dipandang berisikan konten vulgar.

Sanksi yang dikenakan selama dua pekan itu dapat mengurangi pendapatan dari bisnis pencarian dan pakan intinya pada kuartal kedua sebesar di bawah 2 persen, menurut perkiraan analis Jefferies Thomas Chong.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china baidu
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top