Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Imbal Hasil Obligasi Diprediksi Masih Tinggi

Analis menilai dampak terhadap pasar obligasi akan lebih besar jika pemerintah memenangkan lelang dengan nominal lebih tinggi.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 28 April 2020  |  20:19 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Peningkawan penawaran dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan belum akan memicu penurunan imbal hasil di pasar sekunder. 

Lelang SUN hari ini, Selasa (28/4/2020) menghasilkan penawaran sebanyak Rp44,39 triliun. Pemerintah  menyerap Rp16,62 triliun dari jumlah penawaran yang masuk atau lebih rendah dari target indikatif Rp20 triliun s.d Rp40 triliun.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan jumlah penawaran dalam lelang SUN hari ini cukup menggembirakan meski tidak melampaui Rp50 triliun.

Dia menilai, permintaan yield dari investor masih cukup tinggi, tercermin dari jumlah lelang yang dimenangkan pemerintah sebanyak Rp16,62 triliun.Dia menyebut, pemerintah tetap berupaya menjaga tingkat yield agar tidak terlalu tinggi meski membutuhkan sokongan dana tambahan dari instrumen utang tersebut.

“Kalau kita mengacu kepada yield pada hari Senin, itu ada kenaikan hingga 8,1 persen. Kami melihat itu masih dalam rentang yang diinginkan,” katanya kepada Bisnis, Selasa (28/4/2020).

Menurutnya dampak terhadap pasar obligasi akan lebih besar jika pemerintah memenangkan lelang dengan nominal lebih tinggi. Oleh karena itu, hasil lelang SUN hari ini belum berdampak besar terhadap pasar sekunder.

Nico memprediksi, imbal hasil SUN bertenor 10 tahun masih berpotensi mengalami kenaikan dalam jangka panjang walaupun dalam jangka pendek terjadi penurunan.

Dia menjelaskan bahwa kondisi volatilitas di pasar sekunder dalam negeri membuat investor asing cenderung wait and see

Hal ini pula yang membuat investor cenderung memilih obligasi dengan tenor lebih pendek, di rentang 5—10 tahun. Hal tersebut juga tercermin dalam pelelangan SUN hari ini.

Menurutnya, ke depan investor masih akan mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 di Indonesia. Berbagai stimulus ekonomi yang digelontorkan sejauh ini belum akan direspons positif oleh pasar selagi pandemi masih merajalela.

Sementara itu, Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan bahwa peningkatan penawaran pada lelang hari ini tak lain disebabkan oleh dorongan dari sektor perbankan. Bank Indonesia telah memberikan kebijakan makroprudensial yang membuat likuiditas perbankan lebih longgar sehingga bisa lebih aktif di pasar obligasi.

Dia menilai penawaran maupun hasil lelang SUN hari ini belum terlalu signifikan. Hal ini membuat dampak proses lelang terhadap pergerakan yield SUN tenor 10 tahun di pasar sekunder berada dalam kategori minimal.

“Mungkin harapan penurunan yield bisa didorong dari apresiasi rupiah, tetapi tampaknya tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” katanya kepada Bisnis, Selasa (28/4/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Obligasi Pemerintah
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top