Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Moody’s : Makin Banyak Perusahaan yang Berpotensi Turun Rating

Moody's menyebut ada tiga faktor terbesar yang mendorong peningkatan perusahaan di zona crossover.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 23 April 2020  |  11:43 WIB
Moody's Investor Service. - Bloomberg
Moody's Investor Service. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Daftar perusahaan nonfinansial yang berpotensi mengalami penurunan rating atau peringkat  investasi bertambah. Hal tu terutama disebabkan oleh jatuhnya harga komoditas dan tekanan dari pandemi Covid-19.

Riset Moody’s Investor Service melansir, di akhir kuartal I/2020, sebanyak 96 perusahaan nonfinansial  berada dalam area crossover zone, yakni peringkat yang paling dekat dengan speculative grade dan investment grade. Adapun pada kuartal sebelumnya hanya ada 43 perusahaan masuk di kategori tersebut.

“Ini merupakan jumlah terbanyak,” demikian tertulis dalam riset Moody’s, seperti dikutip Bisnis, Kamis (23/4/2020).

Senior Vice President Moody Michael Corelli menyebut memburuknya kondisi ekonomi global, penurunan harga komoditas yang tajam, dan volatilitas pasar keuangan akibat sejumlah langkah pencegahan penyebaran Covid-19 menjadi faktor terbesar adanya peningkatan perusahaan di zona crossover.

“Faktor-faktor tersebut mengakibatkan goncangan kredit yang parah dan luas di banyak sektor dan pasar di dunia. Menyebabkan potensi ‘the fallen angels’ naik dari 43 perusahaan menjadi 76 perusahaan. Sebaliknya, ‘rising star’ berkurang dari 27 menjadi 20 perusahaan,” tuturnya. 

Sepanjang kuartal I/2020, telah ada 21 perusahaan nonfinansial yang peringkatnya diturunkan, dari tingkat investasi ke tingkat spekulatif. Corelli memperkirakan akan lebih banyak perusahaan yang mengalami hal serupa.

Moody mencatat, para perusahaan yang potensial untuk downgrade memiliki utang US$593 miliar per akhir kuartal pertama, jumlah ini meningkat tajam dari total utang US$341 miliar per akhir 2019.

Peningkatan ini terutama disebabkan oleh General Motors Company dan Kraft Heinz Foods Company yang memasuki zona tersebut dengan utang masing-masing sekitar U$29 miliar, bersama dengan Delta Air Lines Inc., dengan US$ 22 miliar, dan A.P. Moller-Maersk A / S, dengan utang US$17 miliar.

Perusahaan-perusahaan yang melewati zona crossover dan langsung menuju peringkat spekulatif memiliki sekitar US$92 miliar dalam daftar utang mereka, dengan US$40 miliar di antaranya adalah utang Occidental Petroleum Corporation.

Di antara daftar tersebut, ada satu perusahaan asal Indonesia yang kini berada dalam crossover zone, yakni PT Indosat Tbk. Emiten telekomunikasi tersebut saat ini memiliki rating Baa3 NEG.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi moody's
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top