Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Emas oleh Bank Sentral Global Terkontraksi 44 Persen

Mengutip laporan World Gold Council, total pembelian emas oleh bank sentral periode dua bulan pertama tahun ini hanya sebesar 64,5 ton, jauh lebih rendah dengan pembelian pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 116,1 ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 06 April 2020  |  21:10 WIB
Emas lantakan. - Stefan Wermuth / Bloomberg
Emas lantakan. - Stefan Wermuth / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan emas oleh bank sentral melemah tercermin dari data pembelian emas selama dua bulan pertama tahun ini yang terkoreksi cukup dalam hingga 44 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Mengutip laporan World Gold Council, total pembelian emas oleh bank sentral periode dua bulan pertama tahun ini hanya sebesar 64,5 ton, jauh lebih rendah dengan pembelian pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 116,1 ton.

Lebih rinci, pada Februari, bank sentral di seluruh dunia hanya menambahkan 36 ton emas ke dalam cadangan emas moneternya, hampir 30 persen lebih tinggi daripada pembelian untuk periode Januari 2020, tetapi lebih rendah 52 persen secara year on year.

Adapun, bank sentral Turki memimpin pembelian dengan total penambahan emas pada Februari hingga 24,8 ton, kemudian diikuti dengan Rusia yang membeli sekitar 10,9 ton emas.

Untuk diketahui, dari tahun ke tahun dua bank sentral tersebut bersama dengan bank sentral Kazakhstan, Qatar, dan Uzbekistan menjadi pembeli utama emas sepanjang tahun lalu.

Periset World Gold Council Krishan Gopaul mengatakan bahwa masih adanya bank sentral membeli emas menandakan bahwa logam kuning itu masih menjadi komponen penting cadangan devisa meskipun tingkat permintaan menurun.

Namun, sama dengan yang terjadi di seluruh dunia, ketidakstabilan dan ketidakpastian pasar baru-baru ini akibat sentimen penyebaran virus corona akan berada di garis depan pikiran para bankir sentral.

“Sementara kami percaya bank sentral akan tetap menjadi net buyer emas pada 2020, tetapi masuk akal jika mungkin kita tidak akan melihat pembelian emas sebanyak yang dilakukan bank sentral dalam dua tahun terakhir,” ujar Krishan seperti dikutip dari publikasi risetnya, Senin (6/4/2020).

Dia mengatakan bahwa sesungguhnya penurunan pembelian emas oleh bank sentral tampak sudah terlihat sejak Agustus 2019. Penurunan permintaan emas oleh bank sentral itu juga telah menjadi sinyal adanya pelemahan permintaan fisik emas dunia.

Pasalnya, pembelian emas oleh bank sentral sebagai cadangan merupakan kontribusi permintaan terbesar kedua emas fisik setelah permintaan untuk perhiasaan pada tahun lalu. Meskipun harga melonjak, bank sentral telah melakukan pembelian emas sebanyak 650 ton dibandingkan dengan emas untuk perhiasan sebesar 2.350 ton.

Kini, sebagian besar bank sentral itu telah mencapai tingkat di mana selera untuk mengumpulkan emas cenderung habis.

Dua republik Asia Tengah, Kazakhstan dan Uzbekistan, saat ini telah memegang lebih dari setengah aset cadangan devisa mereka dalam logam, jauh melebihi apa yang mereka butuhkan untuk menyeimbangkan portofolio mereka dan mengelola risiko mata uang.

Kepemilikan emas oleh Bank Sentral Turki pada akhir Desember juga sudah setara dengan sekitar 20 persen dari total cadangannya. Terbaru, Bank Sentral Rusia mengumumkan untuk menghentikan pembelian emas domestik mulai bulan depan.

Permintaan emas yang rendah itu dapat semakin menekan harga emas yang saat ini diterpa sentimen aksi jual investor untuk mencari lebih banyak dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (6/4/2020) hingga pukul 15.42 WIB, harga emas di pasar spot terapresiasi 0,73 persen menjadi US$1.632,61 per troy ounce, sedangkan harga emas berjangka kontrak Mei 2020 di bursa Comex naik 1,07 persen ke level US$1.663,3 per troy ounce.

Pada perdagangan pertengahan Maret, emas sempat anjlok ke level US$1.477 per troy ounce, level terendah emas dalam dua bulan terakhir.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan bahwa naiknya harga emas saat ini karena meningkatnya permintaan aset safe haven karena kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari pandemi virus corona.

“Namun, kenaikan terbatas karena menguatnya dolar AS dan beberapa indeks saham dunia,” ujar Faisyal seperti dikutip dari publikasi risetnya, Senin (6/4/2020).

Dalam perdagangan yang sama, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak menguat 0,21 persen ke posisi 100,786.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini bank sentral
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top