Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group
Bongkahan emas. - Bloomberg
Premium

Masihkan Emas Jadi Investasi Safe Haven?

20 Maret 2020 | 23:15 WIB
Berdasarkan riset World Gold Council, Kamis (20/3/2020), volatilitas harga emas belakangan ini didorong oleh likuidasi aset besar-besaran di hampir semua aset.

Bisnis.com, JAKARTA — Layaknya portofolio aset lainnya, emas pun tak lepas dari volatilitas yang dipicu dari ketidakpastian ekonomi dan situasi pasar di seluruh dunia.

Berdasarkan riset World Gold Council, Kamis (20/3/2020), volatilitas harga emas belakangan ini didorong oleh likuidasi aset besar-besaran di hampir semua aset. Tak hanya itu, emas juga diyakini menjadi opsi utama bagi investor untuk meningkatkan ketersediaan uang tunainya guna menutupi kerugian di aset-aset lainnya.

Di saat hampir semua portofolio menunjukkan kinerja negatif, emas masih menjadi salah satu aset dengan kinerja terbaik year to date (ytd) per 18 Maret 2020. Selain itu, emas merupakan aset dengan kualitas tinggi dan bersifat liquid. Mengacu pada data Goldhub.com, emas diperdagangkan lebih dari US$260 miliar per hari pada 1 Maret 2020 (per 18 Maret 2020).

Sejauh ini, aksi jual masih terkonsentrasi di pasar derivative dan over the counter (OTC). Ketika emas exchange-traded fund (ETF) mengalami penarikan dana belakangan ini, arus dana masuk masih tercatat positif pada tahun ini. Mengacu pada data Goldhub.com, arus masuk dari seluruh dunia mencapai US$3,6 miliar per Maret sehingga total dana koletif senilai US$11,5 miliar ytd.

Riset ini menyatakan perlambatan pertumbuhan ekonomi akan berdampak terhadap permintaan emas sehingga volatilitas emas diprediksi masih tinggi ke depan. Tetapi, tingginya level ketidakpastian, tren suku bunga rendah, dan pelonggaran kuantitatif akan menjadi daya dorong bagi emas sebagai aset safe haven.

Perspektif mengenai terjadinya resesi kadangkala dilihat secara berbeda. Ada yang fokus pada tren krisis sebelumnya, ada pula yang fokus pada sinyal baru dan  kekhawatiran. Pada titik ini, kondisi saat ini dihadapkan oleh pembatasan perjalanan yang luas, penutupan operasional di beberapa sektor, hingga volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan krisis finansial 2008-2009, terlalu mengagetkan bagi setiap generasi.

Silakan masuk/daftar untuk melanjutkan membaca Konten Premium

Dan nikmati GRATIS AKSES 8 artikel Konten Premium!

Masuk / Daftar
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top