Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Waduh, Harga Minyak Bisa Sentuh Level US$5 per Barel?

Para pedagang minyak ramai berspekulasi soal arah pergerakan harga minyak di tengah gejolak pasar yang berlangsung. Sebagian memperkirakan yang terburuk belum terjadi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Maret 2020  |  08:54 WIB
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Para pedagang minyak ramai berspekulasi soal arah pergerakan harga minyak di tengah gejolak pasar yang berlangsung. Sebagian memperkirakan yang terburuk belum terjadi.

Meski telah merosot sekitar 60 persen sepanjang tahun ini ke level terendah sejak 2003, harga minyak kemungkinan akan turun lebih jauh menjadi US$20 per barel atau di bawahnya, menurut survei Bloomberg terhadap pedagang dari sejumlah perusahaan dan merchant ternama di dunia.

Sederet analis mulai dari Goldman Sachs Group Inc. hingga Citigroup Inc. juga memperkirakan harga akan memperpanjang koreksinya dalam beberapa bulan mendatang.

Beberapa bahkan berspekulasi harga regional tertentu bisa menjadi negatif ketika pasar mencoba mengirim sinyal untuk menghentikan pasokan.

Minyak telah terpukul oleh perang simultan melawan wabah penyakit virus corona (Covid-19), yang menghantam pertumbuhan permintaan global, dan membanjirnya pasokan ketika Arab Saudi dan Rusia melancarkan 'perang' untuk merebut pangsa pasar.

Turunnya harga minyak secara tiba-tiba dan curam membantu memicu aksi jual yang meluas di seluruh pasar, juga mengancam ekonomi di seluruh Amerika Latin dan Timur Tengah, serta Amerika Serikat, di mana industri energi berkontribusi besar.

Menentukan titik terbawah (bottom) di pasar minyak mentah dapat menjadi hal yang membingungkan ketika harga menyentuh level terendah baru setiap harinya.

Harga minyak Brent turun 13 persen pada perdagangan Rabu (18/3/2020) menjadi US$24,88 per barel, terendah sejak Mei 2003.

Sebanyak 18 dari 20 pedagang minyak dan produk yang disurvei Bloomberg memperkirakan Brent akan turun ke level US$20 per barel atau lebih rendah, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) terlihat turun sekitar US$3 atau US$5 di bawah level tersebut.

Menurut para pedagang, penurunan harga diperkirakan dapat berlangsung selama hitungan pekan hingga menuju akhir tahun.

“Level US$20 mudah ditembus pada pertengahan April,” ujar R. Ramachandran, seorang direktur di India Bharat Petroleum Corp., seperti dilansir dari Bloomberg, Jumat (20/3/2020).

Beberapa pedagang menunjukkan harga jatuh cukup dalam sehingga pelaku pasar fisik mulai membeli minyak untuk menyimpannya. Ini adalah praktik umum yang dikenal sebagai contango trade, yang mengarah pada tawaran alami di pasar. Namun, upaya ini hanya akan berfungsi sampai tangki penyimpanan terisi.

Yang lain melihat harga terus akan mengalami aksi jual hingga produsen tidak lagi dapat memompa keuntungan, serta memaksa mereka untuk menutup produksi dan mengambil pasokan off-line.

Beberapa pedagang mengatakan mereka mengincar biaya untuk memproduksi minyak shale AS sebagai level support di titik bawah (bottom).

“WTI akan jatuh di bawah biaya tunai produksi minyak shale AS, yaitu sekitar US$20,” tutur Zhang Chenfeng, seorang analis perdagangan minyak di Shanghai Youlin Investment Management Co.

Dalam sebuah catatan pekan ini, analis Goldman Sachs mengatakan Goldman telah menurunkan proyeksi Brent untuk kuartal kedua menjadi US$20 per barel dari US$30.

Bank tersebut menambahkan bahwa penurunan atas biaya tunai akan konsisten dengan pasar bearish berskala besar sebelumnya pada tahun 1999, 2009 dan 2016, ketika total kapasitas penyimpanan tidak pernah tercapai tetapi kejenuhan logistik lokal terbukti mengikat.

Di sisi lain, Citigroup mengatakan base case-nya Brent akan mencapai rata-rata US$17 per barel atau lebih rendah pada kuartal kedua, dengan rata-rata US$5 dalam skenario bear case dan potensi untuk harga fisik negatif di beberapa area karena kurangnya penyimpanan dan logistik.

Sementara itu, Energy Aspects mengatakan Brent berisiko menguji level US$10 per barel pada bulan April, meskipun harga kemungkinan akan tetap berada di kisaran US$20 untuk tahun 2020.

Analis Mizuho Securities USA LLC Paul Sankey juga menandai risiko penetapan harga negatif kecuali produksi minyak shale menurun lebih cepat dari persediaan meskipun ini diragukannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak brent

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top