Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sesi I Net Sell Asing Rp432,98 miliar, Keampuhan Jurus Otoritas Dipertanyakan

Meskipun otoritas pasar modal telah melakukan beragam kebijakan seperti trading halt, buyback dan lain-lain, hal ini tidak akan berpengaruh banyak untuk mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 19 Maret 2020  |  13:02 WIB
Sesi I Net Sell Asing Rp432,98 miliar, Keampuhan Jurus Otoritas Dipertanyakan
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektornik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Pada perdagangan Selasa (17/3), IHSG tertekan di zona merah dan sempat mengalami trading halt menjelang akhir perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Januari 2016. Bisnis - Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan penghentian sementara perdagangan (trading halt) dan auto reject bawah yang dikeluarkan otoritas pasar modal Indonesia belum mampu menghadapi kepanikan investor di pasar saham.

Menurut Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani, penurunan yang terjadi pada pasar modal Indonesia masih belum bisa dibendung selama investor masih cenderung menahan diri untuk berinvestasi di pasar modal.

Ia mengatakan, meskipun otoritas pasar modal telah melakukan beragam kebijakan seperti trading halt, buyback dan lain-lain, hal ini tidak akan berpengaruh banyak untuk mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pasalnya, pengaruh wabah virus corona masih terasa sangat kuat di kalangan pelaku pasar dan investor.

“Selama masih ada sentimen terkait virus corona di Indonesia, belum ada katalis yang dapat mengangkat IHSG kita,” katanya saat dihubungi pada Kamis (19/3/2020).

Untuk kembali memulihkan pasar, Hendriko menyarankan pada otoritas pasar modal untuk menghapuskan kebijakan trading halt dan auto reject bawah yang saat ini berlaku dan mengembalikannya ke sistem perdagangan biasa. Menurutnya, kebijakan tersebut hanya akan menahan atau memperlambat kontraksi IHSG.

“Memang benar kebijakan ini akan membuat penurunan IHSG menjadi lebih terbatas, tetapi ini tidak akan membuat IHSG juga pulih,” tambahnya.

Hal tersebut terlihat dari tekanan jual di pasar modal Indonesia yang hingga kini masih cukup tinggi akibat wabah virus corona. Hingga penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, investor asing telah melakukan aksi jual bersih senilai Rp432,98 miliar. Ia juga menambahkan, volume perdagangan juga ikut terdampak karena adanya kebijakan auto reject bawah.

“Lebih baik memang dilepas saja, agar yang ingin menjual sahamnya cepat keluar. Karena kebijakan ini sifatnya hanya akan menahan saja, investor dapat melakukan aksi jual keesokan harinya,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Pengamat Pasar Modal Aria Santoso. Menurutnya, untuk meredakan tekanan jual dengan cepat sebaiknya otoritas terkait membiarkan para investor jangka pendek keluar secepat mungkin pada harga berapapun. Hal tersebut dinilai akan mempercepat waktu pemulihan IHSG ke level yang sesuai.

Aria melanjutkan, pembatasan yang saat ini diterapkan agar memberi jeda waktu untuk meredakan kepanikan. Pemulihan pasar dan penurunan kepanikan memang akan membutuhkan waktu.

“Pada pasar keuangan tentu tetap diberikan keleluasaan untuk masuk atau keluar. Jika regulasi terlalu mempersulit keluar, malah akan mengurangi kepercayaan atau preferensi investor,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham bei
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top