Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Rupiah: Januari Juara Asia, Februari KO

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (28/2/2020) rupiah terkoreksi 2,05 persen atau 293 poin dan parkir di level Rp14.318 per dolar AS, level terendahnya sejak Agustus 2019.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  17:51 WIB
Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang di Jakarta, Senin (3/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan menghitung uang di salah satu gerai penukaran uang di Jakarta, Senin (3/2/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Februari 2020 terkapar di zona merah, menyentuh level terendahnya dalam enam bulan terakhir.

Penurunan tersebut dipicu oleh sentimen penyebaran virus corona atau covid-19 yang diproyeksi menekan pertumbuhan ekonomi global dan dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (28/2/2020) rupiah terkoreksi 2,05 persen atau 293 poin dan parkir di level Rp14.318 per dolar AS, level terendahnya sejak Agustus 2019.

Adapun, volatilitas rupiah pada penutupan kali ini menjadi yang terburuk sejak November 2013 dan menjadi mata uang dengan kinerja harian terburuk di antara rekan mata uang Asia lainnya.

Sepanjang Februari 2020, rupiah memimpin pelemahan mata uang Asia dengan terkoreksi sebesar 4,7 persen, tepat di atas won Korea Selatan yang terkoreksi 3,1 persen dan ringgit yang melemah 3 persen.

Situasi tersebut berbalik karena pada Januari 2020 rupiah berhasil memimpin kinerja penguatan saat mayoritas mata uang Asia lainnya berada di zona merah.

Secara year to date, rupiah telah terkoreksi sebesar 3,1 persen menjadi mata uang dengan kinerja terlemah keempat di Asia, di bawah baht yang turun 6,1 persen, won melemah 4,8 persen, dan dolar Singapura yang melemah 3,49 persen.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa volatilitas rupiah yang tinggi mungkin disebabkan oleh country risk Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lainnya.

“Faktor country risk yang tinggi kali, membuat rupiah naik turun lebih volatil dibandingkan dengan pergerakan mata uang yang lain,” ujar Ariston saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (28/2/2020).

Ariston mengatakan bahwa sentimen negatif di pasar masih belum membaik dan tekanan terhadap aset berisiko karena peningkatan penyebaran wabah virus corona di luar China, masih besar.

Tidak hanya itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun terus merosot yang mengindikasikan investor terus memburu aset itu untuk mengamankan nilai aset. Imbal hasil AS itu sempat ke level 1,235 persen, menjadi level terendah sepanjang masa.

Dia mengatakan bahwa selama belum ada berita yang melegakan seperti penurunan korban yang terinfeksi virus itu, stimulus besar, dan penemuan vaksin virus, rupiah mungkin masih akan bertahan di atas level Rp14.000 per dolar AS untuk waktu yang lama.

Dia memproyeksi rupiah bergerak di kisaran Rp13.900 per dolar AS hingga Rp14.500 per dolar AS pada perdagangan pekan depan.

STIMULUS BI
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) tengah berusaha mencegah aksi jual terburuk pasar Indonesia dalam beberapa tahun dengan meningkatkan intervensinya di pasar akibat kegelisahan pasar terhadap virus corona yang membuat investor melarikan diri.

Untuk diketahui, sepanjang Februari, modal asing yang keluar dari pasar sebesar Rp30,8 triliun yang terdiri dari SBN (Surat Berharga Negara) sebesar Rp26,2 triliun dan di pasar saham sebesar Rp4,7 triliun.

Pada pekan lalu, BI telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen. Lalu, BI melakukan intervensi melalui pasar DNDF dan delapan broker untuk menstabilkan mata uang.

Pada perdagangan kali ini, BI pun telah membeli SBN senilai Rp2 triliun melalui lelang. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral itu telah membeli obligasi senilai Rp78 triliun sejak wabah virus mulai berdampak pada pasar mulai akhir Januari.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa intervensi yang cukup ketat dan ekstra waspada dari Bank Indonesia tampaknya belum bisa membawa rupiah kembali perkasa seperti pada awal tahun ini.

“Namun, BI sudah melakukan semaksimal mungkin untuk membantu menstabilkan mata uangnya dan pelemahan mata uang rupiah kali ini menjadi yang terburuk berdasarkan transaksi harian,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Jumat (28/2/2020).

Dia memproyeksi rupiah masih melemah dan bergerak di kisaran Rp14.170 per dolar AS hingga Rp14.350 per dolar AS perdagangan Senin (2/3/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top