Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengumuman WHO Soal Corona Bikin Harga Minyak Anjlok Lagi

Demi menyelamatkan harga minyak dari kejatuhan, OPEC perlu segera menggelar pertemuan untuk membahas pemangkasan produksi lanjut.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  07:40 WIB
Pompa minyak terlihat saat matahari terbit di dekat Bakersfield, California, AS. -  REUTERS /Lucy Nicholson
Pompa minyak terlihat saat matahari terbit di dekat Bakersfield, California, AS. - REUTERS /Lucy Nicholson

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak terus anjlok hingga ke level terendah dalam tiga bulan terakhir setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah virus corona sebagai keadaan darurat global. Hal ini berlangsung saat pasar tengah menanti pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak April 2020 di bursa ICE ditutup di level US$58,29 per barel atau anjlok 2,5 persen pada perdagangan Kamis (30/1/2020). Angka itu menjadi level terendah sejak 8 Oktober 2019.

Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch mengatakan, sentimen yang membuat harga minyak tetap berada pada jalur bearish masih terkait dengan penyebaran virus corona. Jumlah kasus wabah ini terus bertambah dan dikhawatirkan berubah menjadi epidemi.

“Sampai tren kesehatan ini berbalik melemah, tren penurunan tajam minyak seperti ini tidak mungkin akan berhenti,” ujar Jim seperti dikutip dari Reuters, Jumat (31/1/2020).

Harga minyak terus bertahan di dekat posisi terendah beberapa perdagangan terakhir karena investor mencoba menilai kerusakan ekonomi yang mungkin ditimbulkan oleh virus corona. Hal itu berdampak terhadap permintaan minyak mentah dan produk turunannya.

WHO telah menyatakan bahwa wabah virus corona di China -yang telah menewaskan 170 orang- menjadi keadaan darurat dan patut menjadi perhatian internasional. Wabah virus corona telah menjangkiti lebih dari 6.000 orang, melampaui jumlah warga terjangkit saat epidemi Syndrome Respiratory Syndrome (SARS) 2002-2003. Jumlah itu diperkirakan bakal melemahkan perekonomian China.

Di lain pihak, Arab Saudi membuka diskusi untuk mempercepat pertemuan OPEC dari semula awal Maret 2020 menjadi Februari 2020. Sumber Reuters yang tidak disebutkan identitasnya mengatakan, hingga saat ini belum ada kepastian terkait jadwal baru pertemuan OPEC. Anggota OPEC juga belum semuanya mau bergabung. Iran juga disebut akan menentang usulan Arab Saudi.

Konsultan Petromatrix  Olivier Jakob mengatakan, satu-satunya hal yang dapat mengubah tren minyak saat ini adalah pertemuan darurat OPEC dan sekutunya. Pertemuan itu perlu membahas kemungkinan pemangkasan produksi lebih lanjut guna menyelamatkan harga minya dari penurunan yang lebih tajam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top