Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Katalis yang Dorong Saham Emiten Unggas Mulai Bangkit

Sepanjang tahun berjalan 2020, dua saham emiten unggas melonjak double digit. Sentimen positif apa yang mendorong laju sahamnya?
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 20 Januari 2020  |  14:52 WIB
Ini Katalis yang Dorong Saham Emiten Unggas Mulai Bangkit
Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1/2020). - ANTARA / Hafidz Mubarak A
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Analis menilai emiten unggas tengah diselimuti sentimen positif dengan menguatnya rupiah terhadap dolar AS.

Emma A. Fauni, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengatakan kinerja emiten unggas masih dibayangi oleh lesunya harga ayam broiler. Namun, instruksi pemusnahan 13 juta final stock per minggu dan distribusi 15 juta FS per minggu untuk CSR akan mempengaruhi pasokan pada Februari dan mengangkat harga broiler.

"Kami mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor unggas karena ada potensi mild recovery setelah lesu pada 2019," tulisnya dalam riset, baru-baru ini.

Mirae Asset Sekuritas menilai PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) akan menikmati perbaikan margin. Pasalnya, JPFA memiliki eksposur yang paling besar dari segmen broiler.

Sementara itu, saham PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN) direkomendasikan buy dengan target harga Rp1.260. Namun, proyeksi labanya diturunkan menjadi Rp256 miliar pada 2019 dan Rp307 miliar pada 2020.

Head of Capital Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan emiten—emiten perunggasan atau poultry akan diuntungkan dengan penguatan rupiah. Pasalnya, pakan ternak sebagai salah satu segmen penjualan menggunakan bahan baku impor, yakni soybean meal atau bungkil kedelai.

"Komponen pakan ternak itu mayoritasnya menggunakan bahan baku impor. Jadi penguatan rupiah bisa menekan biaya produksi mereka. Kami berekspektasi rupiah akan tetap bertahan," katanya kepada Bisnis, baru-baru ini.

Selain itu, Wawan menambahkan pengurangan biaya pada bahan baku impor bisa mensubsidi harga jagung dalam negeri yang mulai merangkak naik. Dengan begitu beban pokok perseroan tidak akan melonjak signifikan.

Adapun sentimen negatif yang membayangi laju saham emiten poultry, ialah penurunan rupiah, isu tentang flu burung serta pelemahan konsumsi masyarakat.

"Pertumbuhan ekonomi dapat berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat. Tahun lalu trennya turun kalau ini berlanjut bisa menekan laju saham," katanya.

Wawan memilih PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Malindo Feedmil Tbk. (MAIN) sebagai pilihan utama. Adapun target harga bagi keduanya adalah Rp8.000 per saham dan Rp1.200 per saham.

Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta mengatakan kebijakan pengafkiran unggas yang dilancarkan oleh Kementerian Pertanian dapat berdampak signifikan. Menurutnya, hal itu bisa mengerek harga unggas dalam negeri.

"Penguatan rupiah pun bisa mendorong kinerja perseroan. Saya targetkan CPIN bisa Rp7.950 per saham, MAIN Rp1.085 per saham dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) ke Rp1.910 per saham," katanya.

Kinerja Saham Emiten Unggas
PeriodeCPINJPFAMAIN
2017-1.17%-7.81%-41.11%
2018144.55%75.05%91.26%
2019-7.86%-26.52%-26.49%
Ytd per 17 Januari 202013.46%11.40%0%
Harga Saham per 17 Januari 2020Rp7.375Rp1.710Rp1.005

Sumber: Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham charoen pokphand indonesia ayam
Editor : Ana Noviani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top