Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Loyonya Dolar AS Bantu Harga Tembaga Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (13/1/2020) hingga pukul 16.20 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah di level 97,3616.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 13 Januari 2020  |  18:15 WIB
Kabel tembaga. - Reuters
Kabel tembaga. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga diproyeksi akan semakin terapresiasi didorong oleh dolar AS yang bergerak lebih rendah sehingga membuat logam dasar tersebut lebih murah dan menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (13/1/2020) hingga pukul 16.20 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah di level 97,3616.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan akhir pekan Jumat (10/1/2020) tembaga di bursa London ditutup di level US$6.198 per ton, menguat 0,29%.

Wakil Presiden Chicago Zaner Group Peter Thomas mengatakan bahwa pasar logam dasar telah berada suasana bullish sejak perjanjian perdagangan tahap pertama antara AS dan China diumumkan pada akhir tahun lalu.

Konfirmasi pemerintah China untuk mengirim Wakil Perdana Menteri Liu He ke Washington untuk menandatangani kesepakatan tahap pertama pada 15 Januari telah menambahkan katalis positif bagi tembaga.

“Selain itu, saat ini dolar AS terpukul lebih besar daripada yang saya perkirakan, ini jelas akan semakin membantu tembaga untuk menguat,” ujar Peter seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (13/1/2020).

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Greenback jatuh setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih rendah daripada perkiraan analis. Berdasarkan data Pemerintah AS, kenaikan gaji atau non farm payroll (NFP) AS berada di level 145.000 lebih rendah daripada estimasi sebesar 162.000.  Adapun, AS merupakan konsumen logam terbesar kedua di dunia berada di bawah China.

Dolar AS yang lebih lemah membuat tembaga yang didenominasi greenback menjadi lebih murah sehingga meningkatkan minat pembelian tembaga oleh investor.

Di sisi lain, Goldman Sach dalam catatan terbarunya juga mengatakan bahwa tembaga akan bullish pada 2020 seiring dengan pasokan yang terbatas karena smelter China menahan produksi karena tekanan margin yang lebih rendah.

Potensi penurunan produksi oleh smelter China juga menunjukkan pasokan yang lebih ketat pada saat stok yang dilacak oleh London Metal Exchange, yaitu berada di level terendah dalam sembilan bulan sebesar 142.900 ton dan merosot 57,5% sejak akhir Agustus.

Adapun, gangguan pasokan global logam merah dimulai dari India pada 2018, ketika protes keras atas masalah lingkungan menyebabkan penutupan permanen pabrik Tuticorin Vedanta, yang menyebabkan penurunan 22% produksi pada 2019.

Gangguan pasokan itu pun semakin dalam ketika produsen lain termasuk Chili, Zambia, dan Indonesia mengikuti penurunan produksi tembaga masing-masing 11%, 35%, dan 50%, dalam sembilan bulan pertama 2019.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas tembaga
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top