Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Gula India Siap Pulih, Harga Terancam Melemah

Di sisi lain, Direktur Jenderal Asosiasi Pabrik Gula India Abinash Verma mengatakan bahwa dengan ketersediaan air yang lebih tinggi di reservoir, diharapkan banyak petani di Maharashtra akan kembali menanam tebu.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Desember 2019  |  02:55 WIB
Ilustrasi gula pasir dan gula kubus. - REUTERS/Emmanuel Foudrot
Ilustrasi gula pasir dan gula kubus. - REUTERS/Emmanuel Foudrot

Bisnis.com, JAKARTA - India diprediksi dapat kembali mengacaukan pasar gula global seiring dengan prospek tanaman tebu Negeri Taj Mahal itu berubah menjadi lebih cerah pada tahun depan sehingga akan membalikkan arah harga menjadi lebih lemah.

Pemerintah India mengatakan bahwa hujan monsun yang melimpah pada tahun ini telah menyebabkan tingkat air waduk berada di atas rata-rata sehingga akan meningkatkan jumlah tebu yang ditanam. Oleh karena itu, output gula di India diperkirakan kembali naik pada 2020/2021 dibandingkan dengan output gula pada tiga tahun terakhir.

Adapun, sebanyak 120 waduk utama India tercatat telah menampung sekitar 140 miliar meter kubik air pada 19 Desember, sekitar 48% lebih banyak dari tahun sebelumnya dan sekitar 38% lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun.

Direktur Pelaksana Meir Commodities India Rahil Shaikh mengatakan bahwa hanya curah hujan yang lebih sedikit yang akan menghentikan penanaman tebu di India sehingga harga dapat kembali diuntungkan.

“Namun, dengan sentimen India yang dapat kembali menaikkan output gulanya akan membuat harga berbalik terdepresiasi,” ujar Rahil seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (29/12/2019).

Sebagai informasi, tanaman bumper dari India, yang bersaing dengan Brasil sebagai produsen utama dunia, dinilai menjadi penyebab berlebihnya pasokan gula global, dan menyebabkan harga gula turun lebih dari 20% dalam dua tahun terakhir. Lalu, pada 2019 harga gula global mulai pulih, sebagian karena lemahnya panen tebu di India

Sementara itu, Gurdev Gill, wakil presiden perdagangan pertanian Marex Spectron di London, mengatakan bahwa output gula yang lebih tinggi akan meningkatkan persediaan gula di India sehingga berpotensi meningkatkan ekspor India pada tahun depan setelah pasar mengalami kesulitan ekspor dalam beberapa perdagangan terakhir.

India bertujuan untuk mengekspor 6 juta ton gula bersubsidi tahun ini untuk memotong cadangannya yang besar sekitar 14 juta ton, cukup untuk memenuhi permintaan lokal negara itu selama lebih dari enam bulan.

“Kecuali ada bencana cuaca, negara itu akan menjadi eksportir bersih,” ujar Gurdev.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (27/12/2019), harga gula untuk kontrak Maret 2020 di bursa ICE berada di level US$13,5 per pon, menguat 0,74%. Sepanjang tahun berjalan 2019, harga telah bergerak menguat 5,9%.

Di sisi lain, Direktur Jenderal Asosiasi Pabrik Gula India Abinash Verma mengatakan bahwa dengan ketersediaan air yang lebih tinggi di reservoir, diharapkan banyak petani di Maharashtra akan kembali menanam tebu.

“Ini adalah anugerah bagi tanaman tebu yang sedang ditanam sekarang, dan akan membantu meningkatkan areal di daerah penghasil utama negara ini,” ujar Abinash.

Komisaris Asoisiasi Produsen Gula India Shekhar Gaikwad mengatakan bahwa areal di negara bagian barat Maharashtra akan lebih tinggi dari 843.000 hektar atau menjadi sekitar 2,1 juta hektar pada 2019/2020.

“Karena kelembaban tanah yang lebih baik dan ketersediaan air tersebut telah mendorong petani untuk menanam lebih banyak tebu,” ujar Shekhar.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gula
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top