Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ringkasan Perdagangan 26 November: IHSG & Rupiah Kompak Melemah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak berakhir melemah bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat investor menantikan perkembangan lebih lanjut soal kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 November 2019  |  20:36 WIB
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Bursa Efek Indonesia. - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Bursa Efek Indonesia. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak berakhir melemah bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat investor menantikan perkembangan lebih lanjut soal kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Sementara itu, harga emas masih terbebani optimisme atas tercapainya kesepakatan perdagangan “fase satu” antara dua negara berekonomi terbesar di dunia itu.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Selasa (26/11/2019):

IHSG Ditutup Melemah Hari Keempat Beruntun

Pergerakan IHSG ditutup melemah 0,73 persen atau 44,57 poin di level 6.026,19 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Delapan dari sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin pertanian (-1,95 persen) dan industri dasar (-1,85 persen). Satu-satunya sektor yang mampu membukukan kenaikan adalah finansial (+0,14 persen).

Dari 664 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 150 saham menguat, 248 saham melemah, dan 266 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 4,48 persen dan 2,28 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir perdagangan.

Rupiah Ditutup Melemah Tipis

Nilai tukar rupiah tergelincir dari penguatannya dan berakhir terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01 persen di level Rp14.088 per dolar AS, setelah mampu berakhir terapresiasi 6 poin di posisi 14.086 pada perdagangan Senin (25/11/2019).

Seiring dengan depresiasi rupiah, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terkoreksi 0,03 persen ke posisi 98,297.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah diperdagangkan dalam kisaran sempit hari ini karena pasar menunggu perkembangan lebih lanjut tentang pembicaraan AS-China untuk kesepakatan perdagangan "fase satu".

“Rupiah terus mempertahankan sebagian daya tariknya karena optimisme bahwa kesepakatan perdagangan tampak sangat dekat,” ujar Vishnu Varathan, kepala ekonom dan analis di Mizuho Bank, seperti dikutip dari Bloomberg.

Aksi Merger & Akuisisi Ramaikan Pasar

Pekan ini dibuka dengan lebih dari US$70 miliar perjanjian merger dan akuisisi (M&A), yang dimulai dengan pengambil alihan saham TD Ameritrade Holding Corp. senilai US$26 miliar oleh pialang online Charles Schwab Corp.

Di samping itu, transaksi bernilai jutaan dolar yang melibatkan raksasa produsen barang mewah LVMH, produsen obat-obatan Swiss Novartis AG dan konglomerat Jepang Mitsubishi Corp mengirim MSCI World Index ke level tertinggi sepanjang masa.

Meskipun aksi korporasi di atas tidak memiliki tema senada, mulai dari konsolidasi industri hingga diversifikasi pendapatan untuk menghindari pasar yang lesu, satu benang merah yang saling menghubungkan adalah pengakuisisi memanfaatkan momen pembiayaan yang lebih murah di saat bank sentral bergeser ke mode stimulus.

Jelang Larangan Ekspor Indonesia, Impor Bijih Nikel China Meningkat

Impor bijih nikel China periode Oktober melanjutkan kenaikan menjelang kebijakan larangan ekspor bijih nikel di Indonesia resmi berlaku pada awal tahun depan.

Mengutip data Bea Cukai China, impor bijih nikel China periode Oktober naik di level 6,85 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,58 juta ton. Namun, secara bulanan impor turun dibandingkan dengan periode September sebesar 7,13 juta ton yang menjadi jumlah impor terbesar lebih dari 5 tahun.

Adapun, pembelian bijih nikel periode Oktober dari Indonesia mengalami kenaikan menjadi 3,11 juta ton dibandingkan dengan bulan lalu yang hanya sebesar 2,51 juta ton dan sebesar 1,34 juta ton dari periode yang sama tahun lalu.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Februari 2020 terpantau turun tipis 0,20 poin atau 0,01 persen ke level US$1.463,60 per troy ounce pukul 19.36 WIB, setelah berakhir melemah 0,46 persen di posisi 1.463,80 pada perdagangan Senin (25/11).

Dilansir dari Reuters, harga emas bergerak fluktuatif di tengah penantian investor atas perkembangan negosiasi perdagangan antara pemerintah AS dan China.

“Kita (pasar emas) terjebak dalam kisaran yang relatif ketat antara US$1.450-US$1.475 dan pada dasarnya hanya menunggu perkembangan lebih lanjut (dalam pembicaraan perdagangan),” terang ahli strategi komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

“Ada sedikit kelelahan di pasar. Mereka (AS dan China) memang tengah berdiskusi dan berusaha memberikan progres positif atasnya, tetapi kita masih belum memperoleh kesepakatan yang aktual,” terangnya, dikutip dari Reuters.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta turun Rp4.000 menjadi Rp743.000 per gram. Adapun harga pembelian kembali atau buyback emas berkurang Rp3.500 menjadi Rp658.000 per gram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top