Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Ditutup Melemah Hari Keempat Beruntun

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Selasa (26/11/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 26 November 2019  |  16:55 WIB
Karyawan berkomunikasi di dekat monitor informasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia Jakarta - Bisnis/Nurul Hidayat
Karyawan berkomunikasi di dekat monitor informasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia Jakarta - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Selasa (26/11/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup melemah 0,73 persen atau 44,57 poin di level 6.026,19 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (25/11), IHSG mengakhiri pergerakannya di level 6.070,76 dengan koreksi 0,48 persen atau 29,48 poin, pelemahan hari ketiga berturut-turut sejak perdagangan Kamis (21/11).

Sebelum kembali berakhir tertekan di zona merah, indeks sempat bangkit ke zona hijau dengan dibuka naik 0,34 persen atau 20,48 poin di posisi 6.091,24 pada Selasa (26/11) pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.026,19 – 6.096,66.

Menurut tim riset Samuel Sekuritas Indonesia, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh minimnya sentimen dalam negeri.

Adapun tim riset MNC Sekuritas menyarankan investor untuk mewaspadai area 5.766 sebagai level support berikutnya.

Delapan dari sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin pertanian (-1,95 persen) dan industri dasar (-1,85 persen). Satu-satunya sektor yang mampu membukukan kenaikan adalah finansial (+0,14 persen).

Dari 664 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 150 saham menguat, 248 saham melemah, dan 266 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 4,48 persen dan 2,28 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir perdagangan.

Indeks saham lainnya di Asia tampak berakhir variatif. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing mampu menguat 0,16 persen dan 0,35 persen. Adapun indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China naik 0,03 persen dan 0,35 persen masing-masing.

Namun, indeks Hang Seng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan berakhir di zona merah dengan pelemahan 0,29 persen dan 0,10 persen masing-masing.

Dilansir dari Bloomberg, pasar saham global bergerak variatif setelah China mengungkapkan bahwa tim perunding Amerika Serikat (AS) dan China masih tetap berkomunikasi guna menyepakati poin-poin kesepakatan perdagangan “fase satu”.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Perdagangan China mengungkapkan bahwa kedua belah pihak, via sambungan telepon pada Selasa (26/11) pagi waktu Beijing, sepakat untuk tetap melakukan komunikasi membahas poin-poin tersisa dalam kesepakatan perdagangan "fase satu".

Percakapan ini merupakan tindak lanjut diskusi antara kedua belah pihak via telepon awal bulan ini. Kantor Perwakilan Dagang AS telah mengonfirmasikan diskusi tersebut meskipun menolak mengomentari isi dari pembahasan.

Pembicaraan mengenai kesepakatan “fase satu” telah berlanjut sejak pertama kali diumumkan pada bulan Oktober. Kedua belah pihak membuat konsesi mengenai sejumlah isu seperti impor makanan dan kekayaan intelektual.

Liu He, kepala negosiator China, pekan lalu mengatakan bahwa ia "sangat optimistis" untuk menyelesaikan kesepakatan fase pertama.

Namun, tidak adanya tenggat waktu dan komentar dari Presiden AS Donald Trump telah menimbulkan spekulasi bahwa perundingan dagang dapat berlanjut hingga tahun depan.

Jika kesepakatan fase satu tidak terwujud sebelum 15 Desember mendatang, Trump harus memilih apakah akan tetap mengenakan tarif 15 persen pada impor senilai US$160 miliar asal China atau tidak.

Hubungan antara kedua belah pihak juga diperumit dengan dikeluarkannya undang-undang melalui badan legislatif AS yang mendukung demonstran pro-demokrasi di Hong Kong.

Secara keseluruhan, seiring dengan akan berakhirnya bulan ini, bursa saham global tetap bergerak menuju kenaikan bulanan di tengah harapan bahwa kesepakatan perdagangan “fase satu” antara dua negara berekonomi terbesar di dunia itu akan segera terwujud.

"Ada lebih banyak insentif kini di kedua belah pihak untuk menyelesaikan kesepakatan perdagangan dibandingkan dengan ketika pembicaraan perdagangan pertama kali runtuh pada awal tahun ini,” ujar Amy Xie Patrick, manajer portofolio di Pendal Group.

“Ini lantaran ekonomi China telah melambat lebih lanjut sejak saat itu dan di AS, Trump menghadapi kampanye pemilihan 2020,” tambah Patrick kepada Bloomberg TV di Sydney.

Bersama IHSG, nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen di level Rp14.088 per dolar AS setelah bergerak di kisaran level 14.078 – 14.092.

Rupiah diperdagangkan dalam kisaran sempit hari ini karena pasar menunggu perkembangan lebih lanjut tentang pembicaraan AS-China untuk kesepakatan perdagangan "fase satu".

“Rupiah terus mempertahankan sebagian daya tariknya karena optimisme bahwa kesepakatan perdagangan tampak sangat dekat,” ujar Vishnu Varathan, kepala ekonom dan analis di Mizuho Bank, seperti dikutip dari Bloomberg.

Varathan memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan diperdagangkan dalam kisaran Rp14.030-Rp14.160 dalam waktu dekat.

Saham-saham penekan IHSG:
 KodePenurunan (persen)
HMSP-4,48
TLKM-2,28
ASII-2,31
GGRM-5,65

Saham-saham pendorong IHSG:

KodeKenaikan (persen)
BBRI+0,48
NATO+25,00
PTBA+5,20
TPIA+0,83

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah saham
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top