Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jelang Larangan Ekspor Indonesia, Impor Bijih Nikel China Meningkat

Mengutip data Bea Cukai China, impor bijih nikel China periode Oktober naik di level 6,85 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu hanya sebesar 5,58 juta ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 November 2019  |  07:43 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA – Impor bijih nikel China periode Oktober melanjutkan kenaikan menjelang kebijakan larangan ekspor bijih nikel di Indonesia resmi berlaku pada awal tahun depan.

Mengutip data Bea Cukai China, impor bijih nikel China periode Oktober naik di level 6,85 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,58 juta ton. Namun, secara bulanan impor turun dibandingkan dengan periode September sebesar 7,13 juta ton yang menjadi jumlah impor terbesar lebih dari 5 tahun.

Adapun, pembelian bijih nikel periode Oktober dari Indonesia mengalami kenaikan menjadi 3,11 juta ton dibandingkan dengan bulan lalu yang hanya sebesar 2,51 juta ton dan sebesar 1,34 juta ton dari periode yang sama tahun lalu.

Pembelian bijih nikel Oktober dari Indonesia tersebut pun menjadi pembelian dengan jumlah tertinggi sejak Januari 2014.

Sementara itu, impor bijih nikel China dari Filipina periode Oktober menurun menjadi 3,38 juta ton, dibandingkan dengan jumlah pengiriman September sebesar 4,39 juta ton dan sebesar 4,02 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

“Impor bijih nikel China melonjak karena pembeli mengambil bahan menjelang larangan ekspor Indonesia yang mulai berlaku Januari 2020,” tulis Bea Cukai China seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (25/11/2019).

Seperti yang diketahui, Indonesia, produsen bijih nikel terbesar di dunia, telah memajukan larangan eskpor bijih nikel dua tahun lebih awal dari rencana semula untuk memajukan sektor hilir dalam negeri.

Sentimen tersebut berhasil membantu harga nikel untuk menguat signifikan pada pertahangan tahun ini sehingga nikel berhasil menyentuh level tertingginya sejak 5 tahun terakhir di level US$18.850 per ton. Sepanjang tahun berjalan 2019, nikel telah bergerak menguat sekitar 39%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top