Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Turun Gara-gara Cemaskan Perundingan Dagang AS-China

Harga minyak turun pada akhir perdagangan Jumat (22/11/2019) atau Sabtu (23/11/2019), mundur kembali dari tertinggi dua bulan dan menghentikan kenaikan selama dua hari berturut-turut karena kekhawatiran atas pembicaraan perdagangan AS-China membayangi ekspektasi perpanjangan pengurangan produksi OPEC+.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 23 November 2019  |  06:39 WIB
Harga minyak turun - nicholloils.com
Harga minyak turun - nicholloils.com

Bisnis.com, JAKARTA  - Harga minyak turun pada akhir perdagangan Jumat (22/11/2019) atau Sabtu (23/11/2019), mundur kembali dari tertinggi dua bulan dan menghentikan kenaikan selama dua hari berturut-turut karena kekhawatiran atas pembicaraan perdagangan AS-China membayangi ekspektasi perpanjangan pengurangan produksi OPEC+.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari turun 0,58 dolar AS menjadi ditutup pada 63,39 dolar AS per barel setelah menyentuh tertinggi 64,27 dolar AS.

Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari turun 0,81 dolar AS menjadi menetap di 57,77 dolar AS per barel setelah mencapai tertinggi sesi 58,74 dolar AS.

Setelah memangkas kenaikan mereka, kedua harga acuan mengakhiri pekan ini dengan sedikit berubah.

“Situasi AS-China tidak terlihat sangat positif, sehingga mengambil beberapa kekuatan reli yang Anda miliki minggu ini,” kata John Kilduff, seorang mitra di Again Capital Management di New York.

Ketidakpastian tentang apakah Amerika Serikat dan China akan dapat mencapai kesepakatan perdagangan parsial yang akan mengangkat beberapa tekanan pada ekonomi global, tetap menutup harga minyak.

Presiden China Xi Jinping pada Jumat (22/11/2019) mengatakan negaranya ingin membuat pakta perdagangan awal dengan Amerika Serikat dan telah berusaha untuk menghindari perang dagang tetapi tidak takut untuk membalas jika diperlukan.

China telah mengundang perunding perdagangan utama AS untuk putaran baru pembicaraan tatap muka di Beijing sebagai upaya untuk setidaknya mencapai kesepakatan terbatas, Wall Street Journal melaporkan pada Kamis (21/11/2019), mengutip sumber yang tidak diidentifikasi.

"Faktor kunci untuk prospek permintaan minyak adalah negosiasi perdagangan," kata Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets and Stockbroking di Sydney.

"Dengan minyak di dekat bagian atas rentang perdagangan baru-baru ini, tidak mengherankan melihat sedikit tekanan jual". 

Harga reli ke posisi tertinggi sejak akhir September pada Kamis (21/11/2019) setelah Reuters melaporkan bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia kemungkinan akan memperpanjang pengurangan produksi yang ada tiga bulan lagi hingga pertengahan 2020 ketika mereka bertemu pada 5-6 Desember.

Kelompok ini juga akan menekankan perlunya kepatuhan perjanjian yang lebih ketat dari negara-negara seperti Irak dan Nigeria.

"Pendekatan disiplin dari Irak dan Nigeria harus mengurangi 300-400.000 barel per hari (bph) dari tingkat produksi grup yang mengarah ke pasar yang seimbang di paruh pertama tahun 2020 dan kemungkinan defisit pasokan di paruh kedua," kata pialang minyak PVM.

Perjanjian saat ini adalah untuk pengurangan produksi 1,2 juta barel per hari hingga akhir Maret.

Berita tentang penarikan terbesar selama tiga bulan dalam stok minyak mentah AS di Cushing, Oklahoma, juga mendukung harga minggu ini. Cushing adalah titik pengiriman untuk minyak mentah berjangka WTI.

Harga minyak juga didukung sampai batas tertentu oleh penurunan jumlah rig minyak AS minggu ini. Jumlah rig pengeboran minyak aktif di Amerika Serikat turun 3 rig menjadi 671 rig untuk pekan yang berakhir 22 November, menurut data mingguan yang dirilis oleh Baker Hughes pada Jumat (22/11/2019).


 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec perang dagang AS vs China

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top