Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Tertekan Data Industri China

Harga minyak mentah berjangka jatuh pada Senin (28/10) setelah kenaikan kuat pada pekan lalu. Hal itu karena data yang dirilis di China memperkuat tanda bahwa perekonomian negara itu tengah melambat, kendati progres negosiasi dagang AS-China telah mendukung harga.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 28 Oktober 2019  |  20:52 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah berjangka jatuh pada Senin (28/10) setelah kenaikan kuat pada pekan lalu. Hal itu karena data yang dirilis di China memperkuat tanda bahwa perekonomian negara itu tengah melambat, kendati progres negosiasi dagang AS-China telah mendukung harga.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 14:57 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,18% atau 0,10 poin ke posisi US$56,56 per barel, sedangkan harga minyak mentah jenis Brent turun 0,15% atau 0,09 poin ke level US$61,93 per barel.  

Seperti dikutip dari Reuters, keuntungan di perusahaan-perusahaan industri China jatuh untuk bulan kedua berturut-turut pada September, karena harga produsen terus merosot, menyoroti dampak dari perlembatan ekonomi dan perang dagang yang berlarut-larut di neraca perusahaan.

Stephen Innes, Pakar Strategi Asia Pasifik di Axi Trader mengatakan, ada beberapa aksi ambil untung yang kecil atas data China tersebut. “Namun pasar masih didukung dengan baik [oleh tanda-tanda kemajuan perundingan dagang AS-China,” katanya.

Selain itu, perusahaan-perusahaan energi AS juga telah mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi minggu ini. Hal itu mengarah ke rekor penurunan 11 bulan karena produsen menindaklanjuti rencana untuk memangkas pengeluaran. Kabar ini menjadi tanda, produksi minyak AS bisa turun.

Pada pekan lalu, Kementerian Energi Rusia menyatakan, mereka melanjutkan kerja sama yang erat dengan Arab Saudi dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak non-OPEC untuk meningkatkan stabilitas pasar.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Igor Sechin, Kepala Eksekutif produsen minyak Rusia, Rosneft, mengatakan serangan September terhadap aset minyak Saudi menimbulkan keraguan atas keandalannya sebagai pemasok. Serangan tersebut, sementara menutup sekitar setengah dari produksi minyak kerajaan.

OPEC +, aliansi anggota OPEC dan produsen besar lainnya termasuk Rusia, sejak Januari telah mengimplementasikan kesepakatan untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari untuk mendukung pasar.

Pakta ini berlaku hingga Maret 2020 dan produsen bertemu untuk meninjau kebijakan pada 5-6 Desember mendatang.

Di tempat lain, sebuah saran oleh Presiden AS Donald Trump bahwa Exxon Mobil atau perusahaan minyak AS lainnya dapat mengoperasikan ladang minyak Suriah mendapat kecaman dari para pakar hukum dan energi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wti
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top