Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Apresiasi Pelantikan Wamen, Rupiah Menguat

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,15% atau 21,00 poin ke posisi Rp14.037 per dolar Amerika Serikat.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 25 Oktober 2019  |  18:26 WIB
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawati Bank Mandiri menghitung mata uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Selasa (12/2/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar merespons positif para wakil menteri yang diumumkan oleh Presiden Joko Widodo, Jumat (25/10/2019), dengan menguatnya mata uang rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,15% atau 21,00 poin ke posisi Rp14.037 per dolar Amerika Serikat, dari Rp14.048 pada sesi pembukaan.

Direktur PT. Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, Presiden Joko Widodo dan Wapres Ma’ruf Amin telah mengumumkan para wamen yang sesuai dengan ekspektasi pasar. Terutama, pasar menyoroti wamen di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diisi oleh dua nama, yaitu Budi Gunadi Sadikin dan Kartiko Wirjoatmodjo.

“Wamen terbanyak di Kementrian BUMN yang memiliki anak perusahaan lebih dari 140 perusahaan pelat merah, sehingga butuh pengawasan ekstra ketat agar tidak terjadi kejadian-kejadian sebelumnya saat banyak perusahaan plat merah yang merugi,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (25/10/2019).

Ibrahim mengatakan, lewat pengawasan ketat ini diharapkan perusahaan pelat merah bisa menjadi ujung tombak mendapatkan laba, dan membantu pemasukan negara.

“Sehingga akan mengurangi beban defisit di APBN 2020,” tuturnya.

Sebagai informasi, pemerintah sendiri menargetkan defisit anggaran sebesar 1,76% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2020 atau senilai Rp 307,2 triliun.

Sentimen lain yang mendorong penguatan rupiah, yaitu langkah Bank Indonesia. Ibrahim mengatakan, dengan melihat kondisi global kembali bergolak, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan domestic non-deliverable forward (DNDF) akhir pekan ini.

Selain itu, sambungnya, BI juga menurunkan suku bunga walaupun kurang efektif, tetapi intervensi tersebut bisa membantu memulihkan pasar agar modal asing kembali masuk.

“Intervensi ini berhasil membawa mata uang garuda menguat walaupun penguatan tidak terlalu signifikan. Namun pasar kembali oftimis terhadap pasar dalam negeri,” ujarnya.

Pekan depan, Ibrahim memprediksi, rupiah kemungkinan menguat kendati terbatas. Hal itu berkat intervensi BI. Dalam perkiraannya, rupiah bakal bergerak di kisaran Rp14.015 hingga Rp14.065 per dolar AS.

Mencermati situasi global, Ibrahim mencatat bahwa Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, anggota parlemen harus mendukung pemilihan umum awal 12 Desember untuk mendapatkan lebih banyak waktu guna meneliti kesepakatan Brexit, sehingga menciptakan lebih banyak ketidakpastian seputar proses keberangkatan negara.

“Para pejabat Uni Eropa akan bertemu di kemudian hari untuk memutuskan berapa lama mereka akan memperpanjang batas waktu Inggris untuk berangkat dari blok tersebut.”

Selanjutnya, data meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan memangkas biaya pinjaman untuk ketiga kalinya tahun ini lebih jauh.

Sementara pembuat kebijakan bank sentral akan bertemu minggu depan. Presiden AS Donald Trump telah mendorong penurunan suku bunga lebih banyak lagi, menunjuk pada penurunan suku bunga di bank sentral lain di seluruh dunia.

“Federal Reserve terlantar dalam tugasnya jika tidak menurunkan suku bunga dan bahkan, idealnya, merangsang. Lihatlah seluruh dunia pada pesaing kami. Jerman dan lainnya sebenarnya mendapatkan bayaran untuk meminjam uang. Fed terlalu cepat untuk menaikkan, dan terlalu lambat untuk memotong!,” cuit Trump.

Presiden European Central Bank yang akan keluar, Mario Draghi, menolak kritik terhadap kebijakan suku bunga negatifnya dan desakannya untuk melanjutkan pembelian langsung obligasi pemerintah mulai bulan depan.

"Perbaikan dalam ekonomi memiliki lebih dari mengimbangi efek samping negatif pada sistem keuangan,” kata Draghi pada konferensi pers regulernya.

Dia menambahkan bahwa tidak terlalu khawatir tentang perbedaan pendapat terhadap paket langkah-langkah pelonggaran multi-aspek September. Menurutnya semua data ekonomi utama dari zona euro dalam perjalanan bulan lalu telah membenarkan tindakan tersebut.

"Saya telah mengambil ini sebagai bagian tak terpisahkan dari perdebatan dan diskusi yang sedang berlangsung," kata Draghi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rupiah
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top