Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dampak Ribut-ribut India dan Malaysia, China Berpotensi Borong Sawit

Hubungan antara India dengan Malaysia memanas setelah Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad menyampaikan komentar soal Kashmir.
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018)./JIBI-Rachman
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018)./JIBI-Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) melesat pada Rabu (23/10/2019), didorong oleh optimisme peningkatan pengiriman sawit Malaysia ke China, setelah memanasnya hubungan Negeri Jiran dengan India.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Rabu (23/10/2019) pukul 11.29 WIB, harga minyak kelapa sawit kontrak pengiriman Januari 2020 di Bursa Derivatif Malaysia bertambah 1,25 persen atau 29 poin ke posisi 2.346 ringgit per ton. Berbekal hasil itu, harga CPO pun membuntuti level terkuatnya dalam setahun terakhir, yaitu 2.369 ringgit per ton pada 28 Januari 2019.

Selain itu, penguatan siang ini juga meneruskan keuntungan di sesi pembuka sebesar 1,17 persen atau 27 poin ke posisi 2.344 ringgit per ton. Sehari sebelumnya, harga CPO ditutup menguat 1,4 persen atau 32 poin ke posisi 2.317 ringgit per ton.

Oscar Tjakrta, analis senior di Rabobank, mengatakan China bisa berpotensi memborong lebih banyak sawit dari Malaysia jika harga jatuh akibat friksi perdagangan antara India dan negara produsen sawit terbesar kedua dunia itu.

Menurut estimasi pemantau independen kargo SGS Malaysia Sdn, ekspor sawit Malaysia ke China melonjak sekitar 42 persen dari bulan sebelumnya menjadi 164.838 ton pada 20 hari pertama Oktober 2019.

Selain itu, pasar juga didukung oleh langkah Indonesia untuk menaikkan kuota penggunaan sawit sebanyak 45 persen pada tahun depan terkait program B30 dan B20.

Sebelumnya, pasar sawit sempat tertekan setelah pembeli sawit terbesar global, India berencana membatasi pembelian dari Malaysia, setelah Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohammad menyinggung persoalan Kashmir.

Pada awal pekan ini, kelompok berpengaruh pengolah sawit di Mumbai baru-baru ini, meminta anggota mereka untuk menahan pembelian sawit dari Malaysia.

Solvent Extractors’ Association of India menyatakan terkait ketegangan antara India dan Malaysia menyangkut industri sawit dengan impor yang sangat besar, pihaknya meminta kepada para anggota untuk tidak membeli sawit dari Malaysia.

“Untuk kepentingan Anda [anggota kelompok] sendiri dan juga tanda solidaritas kami harus menghindari pembelian dari Malaysia untuk saat ini,” kata asosiasi  itu dalam pernyataan mereka seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (22/10).

Tindakan apa pun dari India untuk menyetop pembelian sawit akan memukul industri kunci Malaysia tersebut. Sawit merupakan ekspor agrikultur terbesar Malaysia, dengan pembelian India mencapai sekitar 3,9 juta ton pada Januari-September 2019. Capaian tersebut senilai US$2 miliar.

Hal itu juga lebih dari dua kali lipat pengiriman pada tahun lalu, setelah New Delhi memotong tarif impor komoditas tersebut pada Januari 2019.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dika Irawan
Editor : Annisa Margrit

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper