Melesat Lebih dari 600 Persen dalam 5 Tahun, Kinerja Saham INAF Dinilai Irasional

Saham INAF naik 642,33 persen selama periode dari 20 Oktober 2014 hingga 15 Oktober 2019 atau paling tinggi di antara saham emiten pelat merah lainnya.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  11:13 WIB
Melesat Lebih dari 600 Persen dalam 5 Tahun, Kinerja Saham INAF Dinilai Irasional
Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan sekuritas di Jakarta, Jumat (5/4/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Pergerakan kinerja saham PT Indofarma (Persero) Tbk. yang meroket dalam 5 tahun terakhir dinilai irasional karena tidak sejalan dengan fundamental perusahaan.

Berdasarkan data Bloomberg, saham emiten dengan kode saham INAF tersebut naik 642,33 persen selama periode dari 20 Oktober 2014 hingga 15 Oktober 2019 atau paling tinggi di antara saham emiten pelat merah lainnya. Pada perdagangan hari ini, saham INAF ditutup pada level Rp1.210 sedangkan pada 20 Oktober 2014 berada di level Rp163.

Saham emiten yang bergerak di sektor farmasi ini pernah mencapai titik tertinggi Rp6.500 pada 28 Desember 2018.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan mengatakan dari sisi kinerja jika memakai windows period dari 2014—2018, Indofarma memiliki catatan kinerja yang terbawah di antara emiten BUMN lainnya. Total aset hanya tumbuh rata-rata 4% per tahun, sedangkan aset emiten BUMN lainnya mampu tumbuh sebesar 14% per tahun pada periode tersebut.

Ekuitas INAF bahkan tumbuh minus 4% per tahun di saat total ekuitas emiten BUMN tumbuh 15% per tahun. Penurunan ekuitas perseroan ini disebabkan oleh kerugian bersih yang dialami pada 2016, 2017, dan 2018.

“[Ini] sebuah kenaikan harga saham yang berkebalikan 180 derajat dengan kinerjanya, bahkan sampai semester I/2019 INAF masih membukan kerugian bersih. Saya melihat pergerakannya sudah irasional karena konsistensi realisasi kinerja fundamental yang buruk dalam 5 tahun menghasilkan konsistensi kenaikan harga sahamnya,” ujarnya Selasa (15/10/2019).

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2019 perusahaan farmasi ini membukukan rugi usaha senilai Rp8,42 miliar pada semester I/2019 dari sebelumnya laba Rp30,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sepanjang 2018, perusahaan mencatatkan rugi senilai Rp32,73 miliar.

Dia menilai dalam 5 tahun terakhir saham emiten farmasi, khususnya milik negara, mendapatkan katalis positif dari rencana holding BUMN dan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memberikan ekspektasi permintaan terhadap produk farmasi meningkat.

Namun, ternyata program JKN tidak berimbas pada realisasi kinerja keuangan perseroan. Begitu juga dengan program Holding Farmasi yang dinilai belum memberikan kejelasan terhadap keberadaan INAF pasca-holding.

“Tidak dipungkiri kinerja saham INAF yang naik signifikan ini terjadi pada juga pada Kimia Farma (KAEF). Meskipun kinerja KAEF jauh lebih bagus, tetapi pergerakan harga saham kedua emiten BUMN farmasi ini bergerak anomali dari emiten farmasi non BUMN,” jelas Alfred.

Alfred memaparkan pertumbuhan rata-rata (CAGR) saham emiten farmasi non BUMN selama 5 tahun terakhir berada pada level negatif, kecuali PT Darya Varia Tbk. (DVLA) yang tumbuh 4%.

Saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Merck Tbk. (MERK), dan PT Tempo Scan Pasific Tbk. (TSPC) mencatatkan pertumbuhan rata-rata per tahun masing-masing sebesar -5%, -14%, dan -17%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
indofarma, saham

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top