Paytren AM: Suku Bunga Turun, Reksa Dana Pasar Uang Masih Prospektif

Produk reksa dana pasar uang Paytren AM, yakni PAM Syariah Likuid Dana Safa.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  11:50 WIB
Paytren AM: Suku Bunga Turun, Reksa Dana Pasar Uang Masih Prospektif
Logo Paytren Aset Manajemen - paytren/am.co.id

Bisnis.com, JAKARTA--Total dana kelolaan reksa dana pasar uang di PT Paytren Aset Management mengalami kenaikan sejak awal tahun. Namun, hal itu diklaim bukan terjadi karena adanya switching atau perpindahan dana investasi dari reksa dana saham.

Achfas Achsien, Chief Investment Officer PT Paytren Aset Management, mengungkapkan bahwa kenaikan dana kelolaan reksa dana pasar uang juga terjadi di Paytren AM. Saat ini, produk reksa dana pasar uang Paytren AM, yakni PAM Syariah Likuid Dana Safa.

“Memang ada pergerakan volume naik di pasar uang, itu betul. Tetapi, yang switching [ke pasar uang] itu sebenarnya tidak ada,” ujar Achfas ketika dihubungi Bisnis, baru-baru ini.

Dirinya menjelaskan bahwa kenaikan dana kelolaan produk reksa dana pasar uang terjadi bukan karena adanya perpindahan investasi (switching) dari reksa dana berbasis saham ke reksa dana pasar uang.

Menurut Achfas, beberapa investor memang ada yang khawatir dan bertanya-tanya mengenai prospek pasar saham. Kendati demikian, kekhawatiran tersebut dinilai masih wajar dan belum memperlihatkan kepanikan yang berarti.

“IHSG sudah negatif secara ytd, tapi dalam waktu satu tahun itu masih belum negatif,” ujar Achfas.

Adapun pada akhir perdagangan Jumat (11/10/2019), IHSG ditutup menguat 1,36% ke level 6.105. Sejak awal tahun (ytd), IHSG melemah 1,43% tetapi secara year-on-year (yoy) masih tumbuh 3,95%.

Achfas mengakui sulit untuk memperkirakan arah gerak IHSG pada kuartal terakhir ini karena faktor eksternal maupun internal terus bergulir.

Dari internal, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa mencapai level 5%. Kinerja emiten pun secara umum telah mengalami penurunan setidaknya hingga semester I/2019, terlebih laba perbankan yang mengalami perlambatan dibandingkan dengan pada periode yang sama pada tahun lalu.

Sementara pada saat bersamaan, investor asing terus melakukan aksi jual  bersih (net sell) yang tercatat sejak 3 bulan terakhir telah mencapai Rp22,33 triliun.

“Dampak dari luar juga dan perlambatan ekonomi di dalam negeri,” tutur Achfas.

Adapun katalis yang diharapkan menopang pertumbuhan ekonomi, seperti pemangkasan suku bunga oleh BI, dinilai Achfas masih belum terasa.

Dirinya menjabarkan, suku bunga deposito di pasar uang yang masih ada sebesar 7%-7,5% membuktikan bahwa kondisi pasar uang belum menyesuaikan dengan penurunan suku bunga.

Berbeda dengan yang terjadi di pasar surat uang yang harga obligasi langsung naik seiring dengan turunnya suku bunga. Hal itu menimbulkan adanya capital gain karena harga yang naik dibarengi oleh yield yang turun.

“Tapi di money market atau deposito itu belum linier dampak penurunan suku bunga itu,” ujar Achfas.

Untuk strategi investasi reksa dana pada kuartal IV/2019, Achfas menyarankan kepada investor untuk masuk reksa dana pasar uang maupun pendapatan tetap terlebih dahulu dan untuk investor yang cukup agresif ke reksa dana campuran.

Namun demikian, investor tetap disarankan untuk mengakumulasikan reksa dana saham karena potensi kenaikannya lebih tinggi ditopang oleh fundamental yang masih positif.

Lagipula, harga saham yang tertekan bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk memilah saham-saham bagus dengan harga murah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top