Pasar Obligasi Diproyeksi Menuju Level Resistan

Pasar obligasi pada perdagangan hari ini (14/10/2019) bakal bergerak ke titik resistensi.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  09:19 WIB
Pasar Obligasi Diproyeksi Menuju Level Resistan
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan pasar obligasi pada perdagangan hari ini (14/10/2019) bakal bergerak ke titik resistensi. Berikut sentimennya. 

Dikutip dari hasil risetnya, Senin (14/10/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan terdapat dua sentimen yang mempengaruhi pergerakan pasar obligasi hari ini. 

Pertama, kelanjutan negosiasi terkait perang dagang China-Amerika Serikat. Seperti diketahui, kesepakatan parsial terjadi pada Jumat (11/10/2019) yakni China meningkatkan pembelian komoditas pertanian dari Amerika, menyetujui langkah langkah perjanjian kekayaan intelektual, dan kesepakatan terkait jasa keuangan serta mata uang. Di sisi lain, AS pun setuju untuk menunda kenaikan tarif pada minggu depan karena masih menyisakan beberapa kesepakatan yang belum tercapai salah satunya kenaikan tarif pada Desember yang masih berjalan. 

Selain itu, masalah terkait Huawei, perusahaan asal China akan dibahas terpisah. Terkait hal ini, Trump menyebut pihaknya bisa dengan mudah memberikan lampu hijau untuk Huawei tanpa meminta persetujuan dari kongres.  Tak heran bila seluruh pasar saham global merespons positif keinginan Trump. 

"Sejauh ini pasar obligasi akan mencoba untuk kembali ke titik resistensi sebelumnya pada hari ini, yang di mana resistensi sebelumnya gagal untuk mengalami kenaikan," ujarnya.

Sentimen lainnya yang bakal mempengaruhi perdagangan hari ini yaitu kesepakatan China-India pembentukan mekanisme perdagangan yang baru. Adapun, China merupakan mitra dagang terbesar kedua India dengan nilai perdagangan saat ini sebesar US$87 miliar, dan kedua belah pihak menargetkan bisa mengeksekusi US$100 miliar hingga 2020. 

Wakil Perdana Menteri China Hu Chunhua dan Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman akan memimpin pembahasan guna meredam kekhawatiran bahwa mekanisme baru hanya akan menguntungkan China meskipun keduanya sepakat menciptakan lebih banyak pekerjaan di bidang manufaktur dan akan memperdalam pembicaraan mengenai pertahanan. Kekhawatiran utama India, sama seperti dengan

kekhawatiran Amerika, yaitu masuknya barang barang murah dari China yang bisa memperluas defisit perdagangan antara China dan India hampir senilai US$55 miliar. 

Atas proyeksi tersebut, dia merekomendasikan agar investor melakukan wait and see

"Kami merekomendasikan wait and see hari ini," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top