PPRE Bidik Kontrak Jasa Tambang Nikel

PT PP Presisi Tbk. membidik kontrak jasa pertambangan untuk nikel seiring dengan peningkatan harga komoditas tersebut.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 11 Oktober 2019  |  21:11 WIB
PPRE Bidik Kontrak Jasa Tambang Nikel
ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – PT PP Presisi Tbk. membidik kontrak jasa pertambangan untuk nikel seiring dengan peningkatan harga komoditas tersebut.

Bambang Suyitno, Investor Relation PP Presisi, mengatakan perseroan berencana untuk meningkatkan kontrak yang berasal dari sektor mining services secara berkelanjutan. Saat ini, emiten dengan kode saham PPRE tersebut memiliki tiga kontrak coal hauling dan satu kontrak coal mining services untuk sektor batu bara.

"Ke depannya kami juga akan mengharapkan memperoleh kontrak mining services untuk nikel yang kini sedang booming," ujarnya Jumat (11/10/2019).

Bambang mengatakan sektor tambang sangat menjanjikan karena sumber daya yang melimpah di Indonesia. Selain itu, harga nikel berada dalam tren peningkatan seiring dengan kenaikan permintaan untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.

Di sisi lain, pasokan nikel ke pasar global akan menurun karena kebijakan percepatan pelarangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah pada 2020 dari jadwal sebelumnya pada 2022.

PPRE memiliki startegi untuk meningkatkan kontribusi dari sektor non konstruksi. Hingga kini, kontribusi sektor konstruksi terhadap proyek yang didapatkan perseroan sebesar 99,1% dan sisanya 0,9% dari luar konstruksi.

Menurutnya, kontribusi sektor non konstruksi akan diperbesar hingga 5%-10% dengan tujuan agar tidak terjadi ketergantungan pada sektor konstruksi demi menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. Selain itu, sektor tambang juga akan membantu PPRE untuk meningkatkan proyek di luar induk usaha.

Selain dari potensi yang ada, ekspansi perseroan ke sektor tambang karena telah memiliki kapabilitas melalui entitas anak PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) sejak lama, bahkan sebelum turut berkecimpung ke sektor konstruksi.

"Kami juga telah memiliki fleet/armada alat berat yang juga dapat digunakan untuk jasa pertambangan," kata Bambang.

Hingga Agustus 2019, PP Presisi membukukan nilai kontrak baru senilai Rp2,7 triliun. Perseroan tetap optimistis bisa mencapai target Rp5,8 triliun pada akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tambang, jasa konstruksi

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top