Momentum Akhir Tahun, Manajer Investasi Koleksi Big Caps

Para manajer investasi pun bakal lebih berusaha untuk menjaga kinerja produk yang dibesutnya dengan mengoleksi big caps.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  14:39 WIB
Momentum Akhir Tahun, Manajer Investasi Koleksi Big Caps
Karyawan melintas di bawah layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA—Kinerja reksa dana saham kian terpuruk pada periode tahun berjalan (year-to-date). Hingga akhir tahun ini, para manajer investasi pun bakal lebih berusaha untuk menjaga kinerja produk yang dibesutnya dengan mengoleksi big caps.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 4 Oktober 2019,  indeks reksa dana saham yang tercermin lewat Infovesta Equity Fund Index melemah hingga terkoreksi 10,25% year-to-date. Berjalan beriringan, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga melemah 2,15% ytd pada periode yang sama.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menjelaskan bahwa pihaknya tidak menyusun underlying asset produk reksa dana saham berdasarkan sektor, melainkan berdasarkan saham yang dinilai berprospek baik dan valuasinya murah.

“Ada reksa dana yang [underlying asset] di properti dan keuangannya lebih banyak. Ada pula yang mungkin saham komoditas [lebih banyak] kan sekarang harga saham komoditas lagi turun,” kata Rudi kepada Bisnis, Senin (7/10/2019). 

Selain itu, Rudiyanto juga menjelaskan bahwa portofolio investasi untuk reksa dana saham yang dikelola secara aktif dari Panin AM mengombinasikan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dengan saham-saham berkapitalisasi menengah—kecil (medium—small caps).

Adapun, Rudiyanto menilai pelemahan indeks reksa dana saham sekarang ini tertekan dari data-data ekonomi yang dirilis tidak sesuai harapan. Pada saat bersamaan, perang dagang AS—China yang berkepanjangan juga ternyata tak hanya mempengaruhi sisi perdagangan tetapi ikut menekan harga komoditas.

“Kemudian ditambah dengan politik yang kami pikir setelah Pilpres selesai, bisa langsung kerja ternyata masih cukup banyak tarik-menarik kepentingannya. Jadi, kemungkinan kondisi baru akan stabil setelah kabinet baru,” ujar Rudiyanto.

Dengan melihat perkembangan baru-baru ini, Panin AM pun merevisi turun target IHSG menjadi 6.800 menjelang akhir tahun dari target sebelumnya di level 7.000.

“Kemungkinan kinerja IHSG secara siklus membaik di November—Maret atau April tahun berikutnya,” imbuh Rudiyanto.

Strategi PMN Investment

Portofolio Manager PNM Investment Management Bodi Gautama mengungkapkan bahwa portofolio yang disusun perseroan untuk underlying asset produk reksa dana saham saat ini lebih banyak dari big caps yang berasal dari sektor perbankan, telekomunikasi, dan barang konsumer.

“Portofolio kami itu saat ini memang lebih condong ke big caps. Kami ada strategi sekitar 60%—80% itu dijangkarkan ke saham-saham big caps dengan kajian kuantitatif,” ujarnya.

Sementara sisa maksimal 20% lainnya, lanjut Bodi, akan dialokasikan ke saham-saham stock picking yang umumnya bersifat trading. 

Bahkan, manajer investasi pelat merah ini beberapa kali juga mengambil saham-saham yang baru menawarkan sahamnya lewat penawaran umum saham perdana (IPO) untuk memanfaatkan momentum kenaikan pada perdagangan hari pertama.

Bodi pun optimistis produk reksa dana saham besutan PNM IM dapat mengikuti laju IHSG. Selain itu, penguatan juga dinilai bakal mendapat topangan dari fenomena musiman seperti window dressing dan January Effect.

“Memang pola seperti itu tidak pasti terjadi tapi peluang terjadinya besar, terutama window dressing. Momentum ini bisa dimanfaatkan investor karena biasanya saham-sahambig caps itu yang akan mendorong kenaikan indeks,” imbuh Bodi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top