Jelang Negosiasi Dagang AS-China, Rupiah Rentan Terkoreksi

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.163 per dolar AS, melemah 0,177% atau 25 poin pada akhir perdagangan Senin (7/10/2019).
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  19:19 WIB
Jelang Negosiasi Dagang AS-China, Rupiah Rentan Terkoreksi
Cash Pooling

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah terdepresiasi pada perdagangan Senin (7/10/2019) seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar menjelang pertemuan perdagangan antara AS dan China pada pekan ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.163 per dolar AS, melemah 0,177% atau 25 poin. Kendati demikian, sepanjang tahun berjala 2019 rupiah masih membukukan penguatan sebesar 1,6%, menjadi kinerja terkuat ketiga di antara mata uang Asia.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak menguat 0,08% menjadi 98,885.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pelemahan rupiah disebabkan tekanan dari eksternal, termasuk kekhawatiran negosiasi dagang, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, dan ketidakpastian Brexit.

Bloomberg melaporkan bahwa pejabat China memberi sinyal bahwa mereka semakin enggan untuk menyetujui kesepakatan perdagangan luas yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, meskipun kekhawatiran pasar terhadap ancaman resesi AS telah memudar setelah tingkat pengangguran untuk periode September tercatat turun ke level 3,5%, dari yang sebelumnya 3,7% pada Agustus, data NFP AS periode September 2019 diumumkan sebanyak 136.000, di bawah ekspektasi pasar sebanyak 145.000.

Oleh karena itu, data tersebut tidak serta merta membuat data ekonomi AS tampak baik secara keseluruhan, sehingga ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga acuan The Fed pun masih ada.

“Data tersebut tidak banyak mengubah ekspektasi pasar bahwa Fed akan memangkas suku bunga yang mungkin pada tinjauan kebijakan berikutnya pada 29-30 Oktober untuk mendukung ekonomi AS,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin (7/10/2019).

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2019 tercatat sebesar US$ 124,3 miliar. Posisi tersebut cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Agustus 2019 yang sebesar US$ 126,4 miliar.

Ibrahim memprediksi rupiah masih bergerak terdepresiasi pada perdagangan Selasa (8/10/2019) di kisaran Rp14.130 hingga Rp14.200 per dolar AS karena sentimen eksternal yang masih cukup kuat untuk menekan pergerakan rupiah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kurs, Rupiah

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top