Penggemukan Babi di China Dorong Permintaan Bubuk Kedelai

Penggemukan babi yang dilakukan oleh peternak China dalam beberapa bulan terakhir akan membantu memulihkan permintaan bubuk kedelai China yang diprediksi tertekan seiring dengan menyusutnya jumlah kawanan babi di China akibat demam babi Afrika.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 28 September 2019  |  14:25 WIB
Penggemukan Babi di China Dorong Permintaan Bubuk Kedelai
Peternakan babi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Penggemukan babi yang dilakukan oleh peternak China dalam beberapa bulan terakhir akan membantu memulihkan permintaan bubuk kedelai China yang diprediksi tertekan seiring dengan menyusutnya jumlah kawanan babi di China akibat demam babi Afrika.

Li Qiang, kepala analis di Shanghai JC Intelligence Co Ltd, mengatakan bahwa kehilangan kawanan babi diperkirakan akan menekan permintaan bubuk kedelai, sebagai protein paling umum dalam pakan babi, sebesar 6% hingga 7%.

Sebagai informasi, kawanan babi di China telah menyusut sebanyak 38% pada Agustus dibandingkan dengan tahun sebelumnya akibat epidemi demam babi Afrika sejak tahun lalu yang telah menewaskan jutaan babi dan membuat petani tidak membangun kembali kawanan ternak.

“Namun, penggemukan babi oleh peternak akan menaikkan konsumsi kedelai, sebesar 2,8% menjadi 66,3 juta ton pada periode 2019-2020,” ujar Li seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (28/9/2019).

Peternak babi China menggemukkan babinya menjadi seberat 150 kilogram yang sebelumnya berat babi maksimal untuk disembeli hanya seberat 100 kilogram. Hal tersebut dilakukan oleh peternak untuk mendapatkan keuntungan di tengah melonjaknya harga daging babi akibat menipisnya pasokan babi.

Adapun, harga babi hidup di China telah meningkat hingga 33 yuan per kg atau setara US$2,10 per pon, menjadi rekor harga tertinggi di China.

Eksekutif pakan China yang tidak ingin sebutkan namanya mengatakan bahwa para petani juga meningkatkan ransum soymeal dalam pakan babi untuk meningkatkan kesehatan babi di tengah tingginya harga.

Selain itu, peningkatan produksi unggas untuk membantu mengimbangi kekurangan daging babi juga meningkatkan permintaan soymeal, sehingga pihaknya memperkirakan penggunaan bubuk kedelai dalam pakan unggas mungkin telah meningkat hingga 20% sepanjang tahun berjalan.

Frank Zhou, direktur pelaksana perdagangan biji-bijian dan minyak biji-bijian di unit Cargill China, mengatakan bahwa permintaan bubuk kedelai diprediksi dapat melonjak 3% pada tahun panen 2019 - 2020, jika situasi penyakit dan inventaris babi berhasil stabil bulan ini.

Kendati demikian, Zhou mengingatkan bahwa jika stok babi dan babi terus jatuh, permintaan bubuk kedelai pun akan turun sebanyak 4%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi china, babi

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top