Kerjakan Proyek Infrastruktur, WSKT Klaim Bisa Jaga Rasio Utang

Direktur Keuangan WSKT Haris Gunawan mengatakan total pinjaman Waskita saat ini digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis perseroan.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 24 September 2019  |  04:55 WIB
Kerjakan Proyek Infrastruktur, WSKT Klaim Bisa Jaga Rasio Utang
Pekerja PT Waskita Karya Tbk menyusun kerangka beton proyek renovasi Masjid Istiqlal, di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) meyakini akan bisa menjaga rasio pinjaman dibandingkan dengan modal pada level 2,3 kali hingga akhir tahun ini.

Direktur Keuangan WSKT Haris Gunawan mengatakan total pinjaman Waskita saat ini digunakan untuk mendukung pengembangan bisnis perseroan. “Sedangkan posisi gearing ratio perseroan per Juni 2019 sebesar 2,68x masih berada di bawah ambang batas (covenant) sebesar 3,00x. Kami yakin dapat menjaga rasio ini ke 2.3x di akhir tahun 2019, ” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (23/9/).

PT Waskita Karya saat ini tengah menyelesaikan beberapa Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan skema Turnkey, dimana pembayaran akan diperoleh Perseroan setelah proyek selesai dikerjakan. Adapun proyek-proyek tersebut terdiri dari Tol Trans Jawa, Tol Trans Sumatera, Transmisi Listrik di Sumatera, dan LRT Sumatera Selatan.

Selain itu, Perseroan juga melakukan pengembangan bisnis berupa investasi pada 18 ruas jalan tol di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Aktivitas tersebut membutuhkan pendanaan yang cukup besar.  

Haris mengatakan Waskita Karya akan menerima arus kas masuk sebesar Rp40 triliun selama 2019. Angka tersebut terdiri atas pembayaran proyek turnkey Rp26 triliun yang selesai di tahun 2019 dan Rp14 triliun dari proyek konvensional dengan skema progress payment.

Sampai dengan saat ini Perseroan sudah menerima pembayaran sebesar Rp13,1 triliun yaitu Rp3,4 triliun dari proyek turnkey dan Rp9,7 triliun dari proyek konvensional.

Di antaranya peneriman dari proyek LRT Sumatera Selatan sebesar Rp2,3 triliun pada awal September 2019.

Nilai tersebut di atas belum termasuk rencana penerimaan pengembalian dana talangan tanah dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Kas masuk ini akan digunakan untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan juga untuk meningkatkan kapasitas pendanaan dan menurunkan posisi hutang perseroan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
waskita karya

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top