Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyerapan IPO Tertolong Minat Investor Ritel

Ramainya perusahaan kecil dan menengah yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini turut memanfaatkan momentum tenaga penyerapan dari investor ritel. Adapun, perkembangan yang terjadi dari eksternal dinilai tetap menjadi tantangan bagi penyerapan IPO di pasar saham Indonesia.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 September 2019  |  13:58 WIB
Karyawan beraktivitas di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/8/2018). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan beraktivitas di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/8/2018). - Bisnis/Abdullah Azzam

BIsnis.com, JAKARTA—Ramainya perusahaan kecil dan menengah yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun ini turut memanfaatkan momentum tenaga penyerapan dari investor ritel. Adapun, perkembangan yang terjadi dari eksternal dinilai tetap menjadi tantangan bagi penyerapan IPO di pasar saham Indonesia.

Head of Financial PT UOB Kay Hian Sekuritas Nefo Handojo menjelaskan, ketertarikan investor ritel cukup besar untuk penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) yang bernilai kecil dari perusahaan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah).

“Kalau misalkan IPO—nya, katakanlah antara Rp200 miliar—Rp300 miliar hingga Rp500 miliar, itu fund yang besar agak susah masuk sementara [untuk] ritel itu kebesaran,” kara Nefo di Jakarta, Kamis (19/9).

Adapun apabila nilai IPO yang besar, misalnya di atas Rp1 triliun, perusahaan sekuritas pun harus berupaya mencari dana yang besar dari investor strategis karena tak akan terserap hanya mengandalkan tenaga investor ritel.

Tahun ini, UOB Kay Hian Sekuritas pun semakin fokus menggarap IPO dari kelompok UMKM. Apalagi semenjak Bursa Efek Indonesia mengimbau supaya perusahaan sekuritas juga harus membantu perusahaan kecil yang ingin menjadi emiten.

Menurut Nefo, tren IPO seperti ini masih akan ramai berlangsung selama 1 sampai 2 tahun ke depan.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Adapun risiko penyerapan IPO di pasar modal, lanjut Nefo, masih berasal dari volatilitas pasar.

Saat ini, pasar keuangan domestik masih rentan terhadap ketidakpastian perang dagang antara AS—China dan sentimen negatif dari serangan terhadap kilang minyak terbesar di Arab Saudi.

“Sebenarnya kita juga khawatir di situ [eksternal]. Tapi, sementara kami bekerja di Indonesia, kami lihat kalau peluang itu ada dan memang bisa dikerjakan, kami tetap jalan,” imbuh Nefo.

Menjelang akhir tahun nanti, UOB Kay Hian Sekuritas masih akan membawa 5 perusahaan lagi untuk IPO menggunakan buku audit Juni. Sementara itu, dalam pipeline suda ada 7 perusahaan lagi yang mengantri untuk menjadi emiten.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo uob kay hian
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top