Pasar Takut Resesi, Emas Semakin Berkilau

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (29/8/2019) hingga pukul 14.55 WIB, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,2% menjadi US$1.542,08 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  16:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Emas semakin silau seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap ancaman resesi meningkat dan eskalasi dari perang dagang antara AS dan China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (29/8/2019) hingga pukul 14.55 WIB, harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,2% menjadi US$1.542,08 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak di level US$1.551,9 per troy ounce, menguat 0,18%.

Emas berhasil mempertahankan posisinya di dekat dengan level tertingginya akibat imbal hasil obligasi AS untuk tenor 30 tahun dan imbal hasil obligasi Jerman untuk tenor 10 tahun telah menyentuh level terendahnya pada perdagangan Rabu (28/8/2019).

Inversi imbal hasil obligasi tersebut umumnya dianggap sebagai sinyal adanya resesi yang akan datang.

Kendati demikian, Kepala Strategi Pasar CMC Markets Michael McCarthy mengatakan bahwa laju bullish emas saat ini cenderung tampak tertahan karena pedagang lebih menanti berita positif lebih lanjut terkait sengketa perdagangan AS dan China, berharap pertumbuhan ekonomi dunia tidak lagi melambat.

Pasar juga berharap penuh terhadap pemangkasan suku bunga acuan oleh beberapa bank sentral di dunia agar menjadi stimulus penggerak pertumbuhan ekonomi.

Sebagai informasi, Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa diperkirakan memangkas suku bunga pada bulan depan, dan mayoritas investor juga mengekspektasikan Bank of Japan juga bisa bergabung dalam tren pelonggaran jika sentimen pasar semakin melemah.

“Pertumbuhan yang tidak lagi melambat dan resolusi dalam konflik perdagangan AS dan China akan baik untuk keseluruhan keseimbangan ekonomi dunia, tapi di sisi lain akan menjadi berita buruk bagi pergerakan emas,” ujar Michael seperti dikutip dari Reuters, Kamis (29/8/2019).

Mengutip Reuters, saat ini, China dan AS dikabarkan sedang membahas negosiasi perdagangan tatap muka yang dijadwalkan diadakan di AS pada September.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kementerian Perdagangan China Gao Feng yang mengatakan bahwa kedua belah pihak harus menciptakan kondisi untuk kemajuan dalam perundingan dan menambahkan bahwa China menentang segala bentuk eskalasi perang dagang dengan AS dan bersedia untuk menyelesaikan masalah dengan tenang.

Pada Rabu (28/8/2019), Presiden AS Donald Trump meresmikan kenaikan tarif impor tambahan untuk produk China senilai US$300 miliar sebesar 5% yang akan berlaku bertahap pada 1 September 2019 dan 15 Desember 2019.

Padahal, sebelumnya Donald Trump dalam beberapa hari terakhir telah mengurangi retorika perdagangan dengan China yang agresif, mengatakan pihaknya telah berbicara dengan China melalui telepon dan menuturkan bahwa China telah mengajaknya untuk kembali ke meja perundingan.

Namun, China enggan memberikan konfirmasi atas komentar Trump tersebut tetapi justru mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan AS yang kembali menetapkan tarif impor yang lebih tinggi untuk produk China, yang dinilai Negeri Tirai Bambu tersebut bukan merupakan langkah konstruktif.

Menambah ketidakpastian global, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memutuskan untuk menunda parlemen selama lebih dari sebulan sebelum Brexit.

Potensi Naik

Di sisi lain, Analis PT Monex Investindo Futures Andian Widjaya dalam publikasi risetnya mengatakan bahwa emas berpotensi untuk kembali naik seiring dengan pasar yang menanti data Prelim GDP AS.

“Data Prelim GDP AS menunjukan tingkat pertumbuhan ekonomi, dengan hasil yang lebih baik dari ekspektasi akan mendukung penguatan dolar AS, dan melemahkan mata uang dan aset investasi lainnya,” ujar Andian seperti dikutip dari risetnya, Kamis (29/8/2019).

Dia memperkirakan harga emas berpotensi naik menguji level resisten US$1.547 per troy ounce hingga US$1.555 per troy ounce jika hasil data Prelim GDP AS berhasil dirilis lebih rendah daripada ekspektasi pasar.

Sementara itu, menurut Analis Teknikal Reuters Wang Tao mengatakan bahwa emas bias untuk menembus level resisten di US$1.546 per troy ounce dan mendorong ke level US$ 1.568 per troy ounce sebelum membalikkan tren menjadi naik.

Di sisi lain di antara logam lainnya, perak menguat 1,03% menjadi US$18,55 per troy ounce, platinum menguat 1,32% di level US$913,75 per troy ounce, dan paladium naik 0,7% menjadi US$1.484,01 per troy ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top