Rekomendasi Saham: Ketika BRPT dan TPIA Melaju Kencang

Sepanjang tahun berjalan 2019, saham dua emiten Grup Barito Pacific itu kompak melaju di zona hijau dan mencetak return yang tinggi.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  14:55 WIB
Rekomendasi Saham: Ketika BRPT dan TPIA Melaju Kencang
Karyawan memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/9). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Pendiri Grup Barito Pacific Prajogo Pangestu baru saja menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Joko Widodo. Di sisi lain, bagaimana laju saham emiten di bawah bendera Grup Barito Pacific sepanjang tahun berjalan 2019?

Di pasar modal, ada dua emiten yang terafiliasi langsung dengan Grup Barito Pacific. Mereka ialah PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA).

Sepanjang tahun berjalan 2019, saham dua emiten itu kompak melaju di zona hijau dan mencetak return yang tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg, saham BRPT mendarat di level Rp2.390 pada akhir 2018. Hingga 5 Agustus 2019, BRPT telah melonjak 53,55% ke level Rp3.670 per saham.

Lantas, perseroan mengeksekusi rencana pemecahan nilai nominal saham (stock split) dengan rasio 1:5. Alhasil, BRPT mulai diperdagangkan dengan level harga baru sejak 6 Agustus 2019.

Sepanjang 6-28 Agustus 2019, BRPT sudah mengemas kenaikan harga saham 23,97% dan parkir di level Rp910 pada akhir perdagangan Rabu (28/8/2019).

Lonjakan harga BRPT mendorong nilai kapitalisasi pasar perseroan. Dari Rp43,52 triliun pada 2018, nilai kapitalisasi pasar BRPT per 28 Agustus 2019 tercatat naik signifikan menjadi sekitar Rp81 triliun.

Sejalan dengan saham induk usahanya, saham TPIA juga bergerak cukup panas sepanjang 8 bulan pertama tahun ini.

Pada akhir perdagangan Rabu (28/8/2019), TPIA ditutup menguat 1,46% ke level Rp8.675. Sepanjang tahun berjalan 2019, TPIA sudah melonjak 46,41% dari posisi Rp5.925 per saham pada akhir 2018.

Di level harga kemarin, perseroan memiliki kapitalisasi pasar Rp154,71 triliun. Nilai tersebut naik signifikan dari posisi Rp105,66 triliun pada akhir 2018 dan mendorong TPIA masuk dalam jajaran 10 saham berkapitalisasi pasar terbesar di BEI.

prajogo pangestu

Pendiri dan Komisaris Utama PT Barito Pacific Tbk. Prajogo Pangestu saat menerima Bintang Jasa Utama di Istana Negara./Antarafoto

Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo berpendapat kencangnya laju saham BRPT dan TPIA terjadi di tengah kinerja yang masih tertekan pada kuartal I/2019, menunjukkan investor menilai prospek positif kedua perusahaan petrokimia itu di masa mendatang.

Dia menyebutkan, kenaikan peringkat utang dari S&P menjadi BB-, dari sebelumnya B+, menjadi katalis yang mendorong laju saham TPIA. Sentimen positif lainnya berasal dari harga minyak dunia cenderung di bawah US$60 per barel, dibandingkan tahun lalu yang cenderung lebih tinggi.

Emiten yang 14,76% sahamnya dimiliki Prajogo Pangestu ini, juga memperoleh fasilitas pembebasan pajak atas investasi pabrik polyethylene baru senilai US$380 juta. Dengan fasilitas itu, perseroan mendapatkan pengurangan pajak penghasilan sebesar 100% untuk 10 tahun setelah mulai produksi komersial.

Kerja sama yang dilakukan perseroan untuk memasok bahan baku pipa air minum bakal mengerek kapasitas produksinya. Kerja sama Mubadala Investment Company dengan perseroan untuk bangun pabrik petrokimia, juga menjadi sentimen positif bagi saham TPIA.

"Dengan kerja sama itu harapanya ada korelasi positif untuk laba bersihnya. Sehingga investor melihat prospek ke depannya positif, meski secara kinerja saat ini memang belum terlihat perbaikannya," katanya pada Rabu (28/8/2019).

Lebih lanjut, Wisnu melihat laju saham BRPT lebih kencang setelah melakukan stock split pada awal Agustus ini. Dengan stock split, jumlah saham yang beredar lebih banyak dan harga yang lebih murah, sehingga membuat saham tersebut lebih likuid.

"Dengan kenaikan harga sahamnya, market capnya [BRPT] juga meningkat. Meski dari sisi kinerja juga belum terlihat ada perbaikan," imbuhnya.

proyek petrokimia

Proyek ekspansi pabrik petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk./Bisnis

Pada kuartal I/2019, pendapatan bersih BRPT tercatat US$679,24 juta atau turun 17,82% secara tahunan. Laba bersih juga tertekan dari US$29,59 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$5,81 juta pada kuartal I/2019.

Kinerja yang tertekan juga terjadi pada entitas anaknya, TPIA yang mencatatkan pendapatan bersih US$552,22 juta pada kuartal I/2019 atau turun 20,58% secara tahunan. Adapun, laba bersihnya tertekan dari US$73,40 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$17,27 juta pada kuartal I/2019.

Wisnu merekomendasikan bagi investor yang telah memiliki saham TPIA untuk mulai ambil untung karena valuasinya yang sudah tidak murah. PBV TPIA saat ini sebesar 6,10 kali, di atas PBV sektoral 2,27 kali.

"[Laju saham] TPIA mulai kencang mulai di bulan terakhir dalam 3 bulan terakhir naik 73%. Salah satu pendorongnya variabel tax holiday, ekspansi ke [bahan baku] produk pipa air, meski dari sisi kinerja memang belum ada," imbuhnya.

Lebih lanjut, Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, laju saham TPIA yang naik kencang seiring prospek kinerjanya pada tahun ini. Chandra Asri diuntungkan oleh nilai tukar rupiah yang cenderung menguat dibandingkan dengan tahun lalu.

"Meski [rupiah] agak melemah, tetapi relatif menguat dibandingkan tahun lalu. Tahun ini saja asumsi kurs APBN Rp15.000. Ini masih dipandang menguntungkan untuk industri kimia," katanya.

Meski demikian, analis melihat valuasi saham TPIA tidak lagi murah. Wawan memberikan rekomendasi hold untuk saham TPIA seiring dengan masih ada potensi kenaikan hingga Rp9.000 hingga akhir tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, fokus, chandra asri, barito pacific

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top