Prospek Permintaan Terancam, Harga Minyak Mentah Turun

Harga minyak mentah berakhir turun pada perdagangan Kamis (22/8/2019), terbebani prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan lesunya data manufaktur Amerika Serikat (AS) yang menyoroti kekhawatiran permintaan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  07:37 WIB
Prospek Permintaan Terancam, Harga Minyak Mentah Turun
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah berakhir turun pada perdagangan Kamis (22/8/2019), terbebani prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan lesunya data manufaktur Amerika Serikat (AS) yang menyoroti kekhawatiran permintaan.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober 2019 turun 33 sen dan ditutup di level US$55,35 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2019 melemah 38 sen dan berakhir di level US$59,92 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$4,57 terhadap WTI.

Setelah berfluktuasi sepanjang sesi perdagangan Kamis, kontrak minyak WTI akhirnya turun 0,6 persen. Antisipasi bahwa Gubernur Federal Reserve Jerome Powell akan memberi sinyal penurunan suku bunga dalam pidatonya di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat (23/8/2019) waktu setempat diimbangi dengan kekhawatiran soal permintaan dan melambatnya ekonomi global.

"Pasar telah bergeser untuk fokus pada permintaan global dari kebijakan perdagangan AS,” ujar Judith Dwarkin, kepala ekonom di RS Energy, seperti dilansir Bloomberg.

Harga minyak telah turun 17 persen sejak menyentuh level tertingginya untuk tahun ini pada akhir April. Permintaan dunia akan bahan bakar turunan minyak bumi untuk truk, kereta api, pesawat terbang, dan kapal telah terancam oleh perang dagang yang berkepanjangan antara AS dan China.

Upaya Arab Saudi dan aliansinya yang tergabung dalam OPEC+ untuk meningkatkan harga dengan menahan pasokan belum membuahkan hasil dalam menghadapi lonjakan produksi minyak shale AS.

Sementara itu, indeks yang mengukur aktivitas industri di AS dilaporkan turun untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade. Pada saat yang sama, seorang pejabat Federal Reserve AS mengecilkan ekspektasi penurunan suku bunga yang akan datang.

“Komponen-komponen dari data ekonomi jatuh lebih tajam ke dalam kontraksi. Ini menghidupkan kembali kekhawatiran resesi yang telah meresahkan pasar dalam beberapa pekan terakhir,” terang Daniel Ghali, pakar strategi komoditas di TD Securities, Toronto.

Indeks Manajer Pembelian IHS Markit menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi pada bulan Agustus, untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade.

Data ini memicu kekhawatiran di antara sebagian investor bahwa pelemahan ekonomi di luar negeri dan eskalasi perang dagang dengan China dapat menyeret ekonomi AS.

Fokus pedagang kemudian akan tertuju pada pidato Gubernur Fed Jerome Powell dalam simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat (23/8/2019) waktu setempat yang diharapkan akan memberi petunjuk lebih lanjut tentang prospek penurunan suku bunga AS.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Oktober 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

22/8/2019

55,35

-0,33 poin

21/8/2019

55,68

-0,45 poin

20/8/2019

56,13

-0,01 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Oktober 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

22/8/2019

59,92

-0,38 poin

21/8/2019

60,30

+0,27 poin

20/8/2019

60,03

+0,29 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top