Sempat Volatil, Harga Minyak WTI Kokoh di US$56 per Barel

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil mengukuhkan kenaikannya di atas level US$56 per barel pada akhir perdagangan Selasa (20/8/2019), saat pasar menantikan laporan data persediaan minyak di AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  07:28 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) berhasil mengukuhkan kenaikannya di atas level US$56 per barel pada akhir perdagangan Selasa (20/8/2019), saat pasar menantikan laporan data persediaan minyak di AS.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2019 ditutup naik 13 sen di level US$56,34 per barel di New York Mercantile Exchange. Meski demikian, minyak WTI untuk kontrak teraktif Oktober turun 7 sen ke level US$56,07 per barel.

Adapun minyak Brent kontrak Oktober 2019 mampu menguat 29 sen dan berakhir di level US$60,03 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$3,90 per barel terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Sebelum berakhir menguat, kontrak WTI sempat turun hingga sebanyak 1,7 persen dalam sesi perdagangan yang volatil. Kepada CNBC, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa Huawei Technologies Co. dan perusahaan lainnya asal China menimbulkan ancaman keamanan nasional terhadap AS.

Namun, harga minyak kemudian dapat rebound sebelum penutupan di tengah perkiraan analis bahwa stok minyak mentah AS akan membukukan penurunan untuk pertama kalinya dalam tiga pekan.

Harga minyak tetap stabil setelah American Petroleum Institute (API) dikabarkan melaporkan penurunan pasokan minyak mentah sebesar 3,45 juta barel.

“Ini adalah volatilitas intraday normal,” ujar analis Raymond James Pavel Molchanov, seperti dilansir Bloomberg. Fluktuasi itu, tambahnya, digerakkan perkiraan tentang laporan persediaan mingguan oleh Departemen Energi pada Rabu, berita geopolitik, serta pergeseran dana masuk dan keluar dari pasar berjangka.

Menurut estimasi median dalam survei Bloomberg, persediaan minyak mentah AS kemungkinan turun 1,5 juta barel pekan lalu. Badan energi AS, Energy Information Administration (EIA) akan merilis laporan persediaan mingguannya pada Rabu (21/8/2019) waktu setempat.

Harga minyak mentah telah tergerus bulan ini di tengah indikator yang bertentangan mengenai apakah perang perdagangan akan bergerak menuju resolusi.

Sementara itu, Jerman sedang mempersiapkan langkah-langkah stimulus fiskal untuk mencegah kemungkinan resesi mendalam di ekonomi terbesar Eropa ini. Di AS, pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve diperkirakan akan menopang pertumbuhan Negeri Paman Sam.

Meski langkah Gedung Putih pada Senin (19/8) untuk menunda sanksi terhadap Huawei dilihat sebagai hal yang menggembirakan bagi prospek kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini, pemerintah AS menambahkan lebih dari 40 afiliasi dari perusahaan China ke daftar hitam perdagangannya.

Dalam sebuah pernyataan, Huawei mengatakan bahwa penangguhan tersebut tidak mengubah fakta bahwa perusahaan ini telah "diperlakukan secara tidak adil".

"Hasil dari pertemuan perdagangan AS-China berikutnya akan menjadi ujian sejati untuk pasar minyak," kata Stephen Innes, managing partner di VM Markets Pte., Singapura.

“Pedagang minyak tidak ingin bergerak terlalu jauh mendahului realitas ekonomi dari narasi perang dagang, jadi ada sedikit aksi ambil untung,” tambahnya.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak September 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

20/8/2019

56,34

+0,13 poin

19/8/2019

56,21

+1,34 poin

16/8/2019

54,87

+0,40 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Oktober 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

20/8/2019

60,03

+0,29 poin

19/8/2019

59,74

+1,10 poin

16/8/2019

58,64

+0,41 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top