Investor Profit Taking, IHSG Terseret ke Zona Merah

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG terpantau berbalik melemah 0,58 persen atau 36,78 poin ke level 6.258,96 pada akhir sesi I, setelah dibuka melemah 0,08 persen atau 4,93 poin ke level 6.290,81 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  12:55 WIB
Investor Profit Taking, IHSG Terseret ke Zona Merah
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terseret lebih dalam ke zona merah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (21/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG terpantau berbalik melemah 0,58 persen atau 36,78 poin ke level 6.258,96 pada akhir sesi I, setelah dibuka melemah 0,08 persen atau 4,93 poin ke level 6.290,81 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (20/8), IHSG ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,02 persen atau 0,98 poin ke level 6.295,74. Sepanjang perdagangan siang ini, IHSG bergerak pada kisaran 6.257,47-6.308,35.

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor properti yang melemah 0,9 persen, disusul sektor barang konsumsi yang melemah 0,87 persen. Adapun hanya sektor perdagangan yang positif dengan penguatan 0,29 persen.

Sebanyak 136 saham menguat, 235 saham melemah, dan 280 saham stagnan dari 651 saham yang diperdagangkan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing melemah 2,32persen dan 1,69 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG siang ini.

Artha Sekuritas Indonesia memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami koreksi di tengah penantian pengumuman suku bunga oleh Bank Indonesia.

"Pelemahan diakibatkan aksi profit taking dari investor setelah isu perang dagang dan resesi melemah. Selain itu pelemahan juga diperngaruhi oleh melemahnya nilai rupiah," tulis Equity Research Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper dalam risetnya, Rabu (21/8/2019).

Bursa AS ditutup menguat pada Senin setelah isu resesi mereda. Investor melihat penguatan yield dari US Treasury sebagai indikasi dari kemungkinan resesi tersebut.

Di samping itu persetujuan AS untuk genjatan senjata terhadap Huawei memberikan pandangan bahwa perang dagang masih belum berlanjut. Bursa saham Asia diprediksi menguat setelah People Bank of China menyatakan sedang berencana untuk menurunkan bunga kredit untuk perusahaan China, hal ini memberikan keringanan bagi bisnis perusahaan di China.

Sementara itu, bursa saham lainnya di Asia bergerak variatif. Dengan indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,67 persen dan 0,39 persen, sedangkan indeks Shanghai Composite menguat 0,02 persen.

Dilansir Reuters, bursa Asia datar pada perdagangan hari ini karena kekhawatiran tentang resesi global dan perang perdagangan tanpa akhir mengimbangi ekspektasi stimulus moneter dan fiskal untuk menjaga pertumbuhan.

Fokus pasar tertuju pada symposium tahunan bank sentral di Jackson Hole akhir pekan ini serta petunjuk lebih lanjut terhadap laju penurunan suku bunga AS dalam risalah pertemuan the Fed yang akan dirilis hari ini serta pidato dari Jerome Powell.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 terpantau melemah 0,97 persen di akhir sesi I ke level 548,01, sedangkan indeks syariah, Jakarta Islamic Index melemah 0,86 persen ke level 674,83 pada akhir sesi I.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top