Saham Asia Tertekan oleh Rusuh Hong Kong dan Crash Peso Argentina

Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (13/8/2019) karena kekhawatiran tentang perang dagang China-AS, aksi protes di Hong Kong, dan jatuhnya mata uang peso Argentina mendorong investor mencari aset save haven seperti obligasi, emas, dan yen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  16:06 WIB
Saham Asia Tertekan oleh Rusuh Hong Kong dan Crash Peso Argentina
Bandara Hong Kong dibuka sehari setelah penerbangan dihentikan karena protes, di Bandara Internasional Hong Kong, Cina 13 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Selasa (13/8/2019) karena kekhawatiran tentang perang dagang China-AS, aksi protes di Hong Kong, dan jatuhnya mata uang peso Argentina mendorong investor mencari aset save haven seperti obligasi, emas, dan yen.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang tergelincir 1 persen, indeks Nikkei 225 dan Topix ditutup melemah masing-masing 1,11 persen dan 1,15 persen, dan indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,85 persen.

Pasar saham utama Hong Kong, indeks Hang Seng, ditutup merosot 2,1 persen ke  level terendah dalam tujuh bulan terakhir, sedangkan indeks Shanghai Composite melemah 0,63 persen.

"Protes di Hong Kong menjadi sentimen negatif untuk saham, yang sudah dalam fase penyesuaian karena ada pembicaraan bahwa perang perdagangan akan memicu resesi," kata Kiyoshi Ishigane, kepala fund manager di Mitsubishi UFJ Kokusai Asset Management Co, seperti dikutip Reuters.

Bandara Hong Kong, bandara kargo tersibuk di dunia, dibuka kembali pada hari Selasa setelah demonstran melakukan blokade pada hari sebelumnya. Suasana tetap hati-hati karena demonstrasi yang semakin keras telah menjerumuskan wilayah yang dikuasai China ini ke dalam krisis paling serius dalam beberapa decade terakhir.

Aksi protes selama berminggu-minggu ini sebelumnya dipicu oleh penolakan terhadap undang-undang ekstradisi ke China, namun dengan cepat berubah menjadi tantangan terbesar bagi otoritas China sejak mengambil Hong Kong kembali dari Inggris pada tahun 1997.

Sementara itu, indeks Straits Time Singapura melemah 0,97 persen ke level terendah sejak 6 Juni setelah pemerintah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2019. Singapura sering dipandang sebagai penentu bagi pertumbuhan global karena posisinya sebagai pusat perdagangan utama.

Sentimen sudah lemah karena meningkatnya tanda-tanda bahwa AS dan China tidak akan dengan cepat menyelesaikan perang perdagangan keduanya.

Pelakuk pasar juga khawatir setelah Presiden Argentina Mauricio Macri mengalami kekalahan dalam pemilihan presiden, meningkatkan risiko bahwa Argentina akan kembali ke kebijakan ekonomi intervensionis.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun mendekati level terendah dalam hampir tiga tahun, sedangkan harga emas mendekati level tertinggi dalam enam tahun terakhir, dan yen berada dalam level tertinggi tujuh bulan terhadap dolar AS.

"Suku bunga jangka panjang akan terus turun, dan saham akan menyesuaikan lebih rendah, tetapi ini bersifat sementara. Bank sentral utama memotong suku bunga, yang pada akhirnya akan memberikan dukungan ekonomi," kata Ishigane dari Mitsubishi UFJ.

Analis mengatakan bahwa perdagangan di pasar modal diperkirakan menurun karena banyak investor libur untuk liburan musim panas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top