Diselimuti Katalis Positif, Gulungan Laba Emiten Kabel Kian Tebal

Mayoritas emiten kabel membukukan kenaikan penjualan dan laba bersih, bahkan hingga 3 digit. Moncernya kinerja itu terdorong oleh stabilitas rupiah dan proyek 35.000 MW.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  16:23 WIB
Diselimuti Katalis Positif, Gulungan Laba Emiten Kabel Kian Tebal
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Paruh pertama tahun ini ditutup dengan kinerja yang solid oleh emiten kabel yang mayoritas mengantongi pertumbuhan laba bersih. Bagaimana prospek emiten kabel pada semester II/2019?

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2019, mayoritas emiten kabel membukukan kenaikan penjualan dan laba bersih, bahkan hingga 3 digit. PT Voksel Electric Tbk. (VOKS) membukukan pertumbuhan penjualan tertinggi sebesar 40,10% menjadi Rp1,44 triliun pada semester I/2019.

Sebaliknya, pertumbuhan penjualan paling kecil dibukukan oleh PT Jembo Cable Company Tbk. (JECC) sebesar 8,38% secara tahunan menjadi Rp1,55 triliun pada periode tersebut.

Meski penjualan tumbuh satu digit, laba bersih JECC turun 8,79% menjadi Rp45,14 miliar. Dengan begitu, margin laba bersih menyempit dari 3,46% pada semester I/2018 menjadi 2,91% pada semester I/2019.

Adapun, pertumbuhan laba bersih terbesar dikantongi oleh PT Kabelindo Murni Tbk. (KBLM) sebesar 402,07% secara tahunan menjadi Rp12,15 miliar. Penjualan KBLM tumbuh 20,74% secara year-on-year menjadi Rp509,23 miliar.

Raihan Laba Bersih Emiten Kabel (Rp Miliar)
Kode SahamLaba Bersih Semester I/2018Laba Bersih Semester I/2019Pertumbuhan YoY
IKBI (US$ juta)0,591,1798,31%
JECC49,4945,14-8,79%
KBLI54,02176,73227,16%
KBLM2,4212,15402,07%
SCCO108,74138,9527,78%
VOKS24,98115,91364,01%

Sumber: Laporan Keuangan per 30 Juni 2019.

Sekretaris Perusahaan Voksel Electric Sache Amalia Siddharta menjelaskan, margin laba bersih yang melebar dari 2,42% pada semester I/2018 menjadi 8,02% pada semester I/2019 didorong rupiah dan harga tembaga di LME yang cenderung stabil pada separuh pertama tahun ini. Penjualan juga didorong dari proyek PLN.

Adapun, penjualan ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) naik 51,58% secara tahunan menjadi senilai Rp379,79 miliar.

Sepanjang Januari-Juni 2019, penjualan terbesar VOKS berasal dari segmen kabel listrik senilai Rp952,98 miliar, diikuti kabel kawat tembaga senilai Rp197,71 miliar, kabel fiber optik Rp189,72 miliar. Lebih lanjut, penjualan ekspor yang berkontribusi 98,91% terhadap penjualan, naik 40,59% secara tahunan.

Perseroan belum akan meningkatkan target kinerja pada tahun ini, meski perolehan laba bersih pada semester I/2019 telah melampaui separuh dari target sepanjang tahun ini. Perolehan laba di semester I/2019 senilai Rp115,91 miliar, sedangkan target laba sepanjang 2019 sebesar Rp229,10 miliar.

"Kami masih optimis dengan proyek-proyek infrastruktur dari pemerintah maupun beberapa proyek swasta," katanya pada Jumat (2/8/2019).

Ilustrasi Kabel/Laporan Tahunan 2018 PT Vokstel Electric Tbk.

Direktur Independen Kabelindo Murni Petrus Nugroho Dwisantoso mengatakan, margin laba bersih yang melebar didorong harga bahan baku yang rendah sepanjang semester I/2019, selain juga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang stabil.

"Ada margin yang bagus ketika harga bahan baku rendah pada saat beli dan bisa langsung jual," katanya.

Lebih lanjut, emiten dengan kode saham KBLM itu, optimistis meraih target kinerja tahun ini meski realisasi kinerja semester I/2019 belum mencapai separuh target.

Perseroan mengincar penjualan dan laba bersih masing-masing sebesar Rp1,7 triliun dan Rp68,3 miliar pada tahun ini. Adapun, hingga semester I/2019, penjualan yang telah dikantongi sebesar Rp509,54 miliar dan laba bersih sebesar Rp12,15 miliar.

"Kami belum berencana merevisi target," katanya.

Ilustrasi Kabel/Bisnis.com

Guna mengejar target pada semester II/2019, perseroan akan mengincar lebih banyak proyek swasta dan memenuhi kapasitas yang telah diminta PLN dari perolehan tender baru. Perseroan telah mengantongi kontrak penjualan dari PLN senilai Rp380 miliar untuk pengiriman 6-12 bulan mendatang.

Petrus menambahkan perseroan telah merealisasikan separuh dari alokasi belanja modal tahun ini senilai Rp20 miliar untuk rencana penambahan kapasitas produksi. Perseroan berencana menambah total kapasitas produksi kabel low voltage dari semula 650 ton per bulan menjadi 800 ton per bulan yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV/2019.

Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo memperkirakan, margin laba bersih mayoritas emiten kabel yang melebar didorong rupiah yang stabil di level Rp14.000an sehingga perseroan dapat menekan beban pokok penjualan.

Pada saat yang bersamaan, permintaan PLN terhadap produk kabel melonjak seiring dengan target penyelesaian proyek pembangkit listrik 35.000 megawatt pada 2020. Kenaikan permintaan ini mendorong penjualan emiten kabel, sehingga kinerja positif diperkirakan masih berlanjut pada semester II/2019.

"Pada tahun sebelumnya kinerja [emiten kabel] cenderung turun karena kebijakan dari pemerintah membatasi [proyek 35.000 megawatt] karena rupiah sedang jatuh. Sebab, [di proyek itu] banyak menggunakan bahan impor," imbuhnya.

Gulungan kabel/Bisnis.com

Wisnu mengatakan, kinerja semester I/2019 direspon positif oleh investor yang tercermin pada harga saham emiten kabel yang menguat secara year to date. Peningkatan harga saham yang signifikan terjadi pada saham KBLI sebesar 97,02% secara year to date ke level Rp595 pada penutupan perdagangan Rabu (7/8/2019).

Analis menilai saham emiten kabel yang layak dikoleksi yakni KBLI karena valuasinya masih murah, dengan target harga Rp700 hingga akhir tahun ini.

Harga sahamnya masih berpeluang meningkat karena KBLI memiliki price to earning ratio (PER) KBLI 6,76 kali, di bawah rata-rata sektor industri yang sama sebesar 11,75 kali.

"Dari sisi likuiditas, yang paling likuid VOKS dan KBLI. Namun, valuasi VOKS sudah kemahalan dengan PBV 1,41 kali, di atas rata-rata industri 1,28, kali," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top