BYAN Masih Pede Capai Target 2019

Bayan Resources membukukan pendapatan US$858,57 juta pada semester I/2019. Realisasi itu naik tipis 2,57 persen dari US$837,09 juta pada semester I/2018.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  12:25 WIB
BYAN Masih Pede Capai Target 2019
Ilustrasi - bayan.com.sg

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan pertambangan batu bara PT Bayan Resources Tbk. masih optimistis mencapai target yang dibidik tahun ini meski laba bersih yang dibukukan pada semester I/2019 tergerus.

Bayan Resources membukukan pendapatan US$858,57 juta pada semester I/2019. Realisasi itu naik tipis 2,57 persen dari US$837,09 juta pada semester I/2018.

Akan tetapi, beban pokok pendapatan perseroan tercatat naik 34,64 persen secara tahunan pada semester I/2019. Besaran yang dikeluarkan oleh produsen batu bara itu naik dari US$379,25 juta pada semester I/2018 menjadi US$510,62 juta pada semester I/2019.

Akibatnya, laba bruto yang dibukukan emiten berkode saham BYAN itu turun 24,00 persen secara tahunan pada semester I/2019. Laba bruto yang dibukukan sepanjang Januari 2019—Juni 2019 senilai US$347,94 juta.

Kenaikan signifikan juga terjadi untuk beban penjualan perseroan. Jumlah yang dikeluarkan naik 58,79 persen dari US$57,78 juta pada semester I/2018 menjadi US$91,75 juta per akhir Juni 2019.

Dengan demikian, perseroan membukukan laba bersih US$178,71 juta pada semester I/2019. Pencapaian itu turun 34,24 persen dari US$271,78 juta pada semester I/2018.

Direktur Bayan Resources Jenny Quantero mengatakan penurunan laba bersih disebabkan oleh tergerusnya harga komoditas batu bara. Akan tetapi, pihaknya masih optimistis mampu mencapai target tahun ini.

“Kami masih sesuai target,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (26/7).

Berdasarkan catatan Bisnis, BYAN mengincar pendapatan US$1,5 miliar hingga US$1,8 miliar pada 2019. Artinya, nilai yang dibidik naik hingga 7,78 persen dari realisasi 2018.

Pada 2018, BYAN mengantongi pendapatan US$1,67 miliar. Realisasi itu naik 57,09 persen dari US$1,06 miliar pada 2017.

Dari sisi volume produksi, target yang dibidik perseroan berada di kisaran 32 juta ton hingga 36 juta ton. Harga jual rata-rata diperkirakan US$46 per ton hingga US$48 per ton.

INFRASTRUKTUR

Sebelumnya, Komisaris Bayan Resources Michael Sumarijanto mengatakan perseroan tidak pernah khawatir dalam berinvestasi di bidang infrastruktur. Menurutnya, rencana peningkatan produksi harus ditunjang oleh infrastruktur yang baik.

Pada 2019, BYAN menganggarkan belanja modal US$100 juta hingga US$130 juta. Perseroan melaporkan telah merealisasikan US$11,1 juta pada Januari 2019—Maret 2019.

Di tengah fluktuasi harga batu bara, Michael menyebut perseroan tetap berhati-hati. Menurutnya, perseroan memerlukan perencanaan yang baik agar tetap mempertahankan produksi seperti saat ini.

“Kalau seandainya keadaan memungkinkan untuk meningkatkan produksi maka dilakukan tetapi sekali lagi kami tergantung infrastruktur,” jelasnya.

Baru-baru ini, Manajemen Bayan Resources menyampaikan telah menerima laporan cadangan dan sumber daya batu open cut terbaru atau Joint Ore Reserves Committee (JORC) yang disusun oleh PT RungePincockMinarco (RPM) per 1 Januari 2019. Pernyataan terbaru itu telah diterima perseroan pada 27 Juni 2019.

Hasilnya, cadangan batu bara dilaporkan meningkat 55 persen dari laporan JORC 2012 sebanyak 764 juta ton menjadi 1.181 juta ton. Selanjutnya, sumber daya batu bara meningkat 37 persen dari laporan JORC 2012 sebanyak 1.854 juta ton menjadi 2.543 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bayan resources, kinerja emiten

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top