Investor Hati-hati, Pasar Saham Global Fluktuatif

Bursa saham global bergerak fluktuatif pada perdagangan siang ini, Rabu (24/7/2019), saat investor mencermati serangkaian laporan kinerja perusahaan, dimulainya kembali perundingan perdagangan AS-China, dan prospek pelonggaran kebijakan oleh bank sentral.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  15:45 WIB
Investor Hati-hati, Pasar Saham Global Fluktuatif
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global bergerak fluktuatif pada perdagangan siang ini, Rabu (24/7/2019), saat investor mencermati serangkaian laporan kinerja perusahaan, dimulainya kembali perundingan perdagangan AS-China, dan prospek pelonggaran kebijakan oleh bank sentral.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 naik kurang dari 0,05 persen pada pukul 08.20 pagi waktu London (pukul 14.20 WIB), sedangkan indeks futures S&P 500 turun 0,2 persen.

Adapun indeks FTSE 100 Inggris turun 0,2 persen dan indeks MSCI All Country World naik kurang dari 0,05 persen.

Dilansir dari Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 bergerak fluktuatif saat kuatnya laporan laba perusahaan mendukung penguatan saham teknologi dam penurunan harga bijih besi membebani penambang.

Di sisi lain, saham bank dan produsen mobil melemah setelah penurunan saham Deutsche Bank mendalam dan Daimler memproyeksikan permintaan yang flat tahun ini.

Sementara itu, indeks futures S&P 500 melemah bersama dengan kontrak pada Nasdaq setelah pemerintah AS membuka penyelidikan antitrust pada perusahaan-perusahaan teknologi besar.

Di Asia, bursa saham tampak beragam, dengan indeks saham di Tokyo, Sydney, Shanghai dan Hong Kong menguat, sedangkan indeks saham di Seoul dan Mumbai melemah.

Laporan laba yang pada umumnya positif telah mendukung kinerja bursa saham global pekan ini, meskipun penurunan Deutsche dan permintaan yang lesu untuk produsen mobil mengingatkan investor tentang prospek ketidakpastian ekonomi global.

Menambah sentimen tersebut, saham Amazon, Alphabet, dan Facebook turun lebih dari 1 persen dalam post-market trading, setelah Departemen Kehakiman AS membuka tinjauan antimonopoli mengenai apakah perusahaan-perusahaan teknologi menghambat persaingan secara ilegal.

Bank-bank sentral dunia juga menaruh perhatian pada revisi proyeksi pertumbuhan global yang lebih rendah oleh Dana Moneter Internasional (IMF) pada Selasa (23/7/2019).

Bank sentral AS Federal Reserve diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin dalam pertemuan 30-31 Juli.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) mungkin akan menunda stimulusnya dalam pertemuan kebijakan yang berakhir Kamis (25/7/2019) waktu setempat. Meski demikian, ECB diperkirakan akan memberi tanda-tanda langkah kebijakan untuk pertemuan berikutnya pada September.

Terkait isu perdagangan, Bloomberg melaporkan bahwa Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer akan bertolak ke China pekan depan untuk mengadakan negosiasi perdagangan tingkat tinggi pertama sejak pembicaraan kedua negara berakhir buntu pada bulan Mei.

“Kini ada kekuatan yang cukup kuat dengan langkah bank-bank sentral yang akan terus mendukung pasar," ujar Jean Boivin, kepala global di BlackRock Investment Institute.

“Ini adalah kondisi yang konstruktif untuk aset berisiko, tetapi karena ketegangan perdagangan kita cenderung sedikit lebih berhati-hati,” tambahnya.

Di pasar mata uang, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama menjelang pertemuan kebijakan ECB, sedangkan pound sterling Inggris melemah di kisaran level terendahnya dalam dua tahun pasca kemenangan Boris Johnson sebagai perdana menteri Inggris.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, Bursa Asia, saham global

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top