Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Akan Kontrol Impor, Harga Batu Bara Lanjutkan Pelemahan

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Juli 2019 ditutup melemah 1,54 persen atau 1,05 poin ke level US$67,15per metrik ton.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  07:47 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara di bursa Newcastle masih melanjutkan pelemahan pada hari perdagangan keempat berturut-turut kemarin, Kamis (27/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Juli 2019 ditutup melemah 1,54 persen atau 1,05 poin ke level US$67,15per metrik ton.

Harga batu bara melanjutkan pelemahannya di hari keempat setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (26/6), ditutup melemah 0,66 persen atau 0,45 poin ke level US$68,20 per metrik ton.

Adapun harga batubara Newcastle untuk kontrak Agustus 2019 juga ditutup melemah 1,22 persen atau 0,85 poin ke level US$68,70 per metrik ton.

Di sisi lain, harga harga batu bara di bursa ICE Rotterdam untuk kontrak teraktif Juli 2019 ditutup melemah 0,6 persen atau 0,3 poin ke level US$49,30 per metrik ton.

Pelemahan harga batu bara ini sejalan dengan rencana pemerintah China yang akan memperketat impor batu bara, sehingga berpotensi melemahkan pasar global.

Dilansir Bloomberg, China diperkirakan akan memperketat kontrol impor batubara pada paruh kedua tahun ini jika regulator mampu menstabilkan harga domestik.

Pihak berwenang akan berupaya membatasi impor pada, atau bahkan di bawah, tingkat tahun lalu sebesar 281 juta ton, menurut perkiraan dari enam analis termasuk kelompok industri batubara terkemuka China dan Noble Resources International Pte.

Pengiriman impor pada lima bulan pertama tahun 2019 mencapai 127 juta ton, 5,6 persen lebih tinggi dari periode yang sama pada tahun 2018.

Zeng Hao, seorang analis di konsultan Fenwei Energy Information Services Co. mengatakan Ini  berarti impor akan menyusul pada semester kedua. “China memiliki kecenderungan untuk menekan kuota di akhir tahun, sehingga mendorong pembeli untuk memuat pembelian sebelum itu,” ungkapnya seperti dikutip Bloomberg.

Sebagai pengguna dan produsen bahan bakar terbesar di dunia, China sering mengelola pasar domestiknya dengan menyesuaikan impor. Sebelumnya, pemerintah menangguhkan bea cukai dalam dua bulan terakhir tahun 2018 untuk memenuhi batas pengiriman tahunan.

Setelah harga naik tahun ini karena pengawasan yang lebih ketat terhadap tambang lokal, pembangkit listrik besar mengimbau pemerintah untuk membantu mengurangi biaya batubara.

"Jika harga terlalu tinggi di dalam negeri, China akan mengimpor lebih banyak," kata Tian Miao, analis di Everbright Sun Hung Kai Co.

“Kontrol impor adalah semacam proses yang dinamis. Prioritas utama dan terpenting negara adalah mengamankan pasokan batubara dan memastikan harga stabil pada tingkat yang wajar," lanjutnya.

Pergerakan harga batu bara kontrak Juli 2019 di bursa Newcastle
Tanggal                                    US$/MT
27 Juni67,15

(-1,54 persen)

26 Juni68,20

(-0,45 persen)

25 Juni68,85

(-2 persen)

24 Juni70,05

(-1,20 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga batu bara
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top