Kapitalisasi Pasar Kecil, MI Enggan Ambil Saham IPO

Kecilnya nilai penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari beberapa emiten pendatang baru membuat para manajer investasi tak terlalu berminat mengoleksi saham-saham baru tersebut.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  10:56 WIB
Kapitalisasi Pasar Kecil, MI Enggan Ambil Saham IPO
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Kecilnya nilai penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari beberapa emiten pendatang baru membuat para manajer investasi tak terlalu berminat mengoleksi saham-saham baru tersebut.

Wawan Hendrayana, Kepala Riset Infovesta Utama, menjelaskan bahwa manajer investasi memang diperbolehkan untuk masuk ke saham-saham milik perusahaan yang baru IPO.

Namun demikian, perlu kembali diperhatikan berdasarkan POJK No. 33/POJK.04/2017 tentang Pedoman Pengeloaan Reksa Dana Berbentuk Perseroan, disebutkan bahwa manajer investasi dilarang membeli efek saham yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat sebanyak lebih dari 5% dari modal disetor perusahaan.

Selanjutnya, manajer investasi juga tidak diperbolehkan untuk membeli efek saham dari perusahaan tercatat sebanyak lebih dari 10% dari total dana kelolaan.

“Oleh karena itu, semakin besar dana kelolaan suatu manajer investasi maka akan semakint terbatas juga saham-saham yang dia bisa masuk,” kata Wawan kepada Bisnis.com, Senin (24/6/2019)

Terlebih lagi, lanjut Wawan, saham-saham yang baru terbit sekarang ini lebih banyak berasal dari perusahaan berkapitalisasi kecil atau masih di bawah Rp1 triliun.

Dengan demikian, kemungkinan yang akan mengincar saham-saham tersebut dalam masa penawaran awal (bookbuilding) adalah manajer-manajer investasi dana kelolaannya cenderung kecil juga.

“Mungkin MI yang dana kelolaannya sekitar Rp100 miliar—Rp500 miliar yang bisa masuk ke saham-saham baru IPO,” imbuh Wawan, sambil menambahkan kemampuan MI yang memiliki dana kelolaan di atas Rp500 untuk menyerap saham baru IPO telah terbatas.

Lebih lanjut, likuiditas memang menjadi salah satu perhatian utama MI ketika meracik produk reksa dana. Pasalnya, kata Wawan, produk reksa dana secara umum dapat dijual sewaktu-waktu oleh nasabahnya sehingga fund manager biasanya mencari saham-saham likuid sambil tetap memperhatikan potensi return dan prospek pertumbuhan pendapatan.

“Kalau sampai fund manager memang bisa masuk [ke saham baru IPO], itu kemungkinan besar untuk di hold. Untuk yang likuid, dia akan cari yang lain. Kalau mengandalkan saham IPO saja, menurut saya agak sulit,” tutur Wawan.

Chief Investment Officer PT Paytren Aset Manajemen Achfas Achsien menyampaikan, pihaknya belum tertarik mengoleksi saham-saham yang baru IPO dan lebih condong memilih saham-saham yang memiliki prospek pertumbuhan yang baik dan valuasinya sudah rendah.

“Belum [tertarik]. Lagipula yang baru IPO ini kapitalisasi pasarnya juga masih kecil. Itu juga yang sebenarnya agak susah bagi pasar modal kita,” tutur Achfas.

Dirinya menjelaskan, perhatian manajer investasi memang condong faktor likuiditas. Apabila kapitalisasi pasar suatu perusahaan kecil, manajer investasi pun hanya bisa mengambil sahamnya sedikit-sedikit dalam porsi banyak untuk menghindari kesulitan likuiditas.

Adapun pemilihan aset dasar saham produk reksa dana di Paytren Aset Manajemen, Achfas mengungkapkan, lebih memilih saham-saham berfundamental bagus, secara industri tidak banyak saingan, dan beberapa saham yang sudah undervalue.

“Tidak melulu [fokus] ke satu sektor industri. Misalnya sekarang sektor properti lagi agak tertekan, tapi kan tidak mungkin tertekan semuanya. Kalau ada yang murah-murah kan sangat menarik sekali untuk dikoleksi,” ujar Achfas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, rekomendasi saham, manajer investasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup