Restrukturisasi Usaha, Sawit Sumbermas (SSMS) Masuk Bisnis Penghiliran Sawit

Restrukturisasi bisnis dilaksanakan dengan melihat kondisi pasar crude palm oil (CPO) yang tidak menentu dikarenakan kebijakan Renewable Energy Direction II (RED II) yang ditetapkan Uni Eropa sekaligus perang dagang antara China dan Amerika Serikat
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  17:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -  PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) melakukan restrukturisasi bisnis dengan menjangkau penghiliran minyak sawit.

Dalam keterbukaan informasi, Jumat (21/6/2019), manajemen SSMS menjelaskan pihaknya berencana melakukan afiliasi bersama PT Citra Borneo Indah (CBI) yang memegang 53,75% saham SSMS beserta anak-anak usaha lainnya. Dengan begitu, emiten perkebunan tersebut menyiapkan transaksi afiliasi sebesar Rp2,52 triliun yang  bertujuan ekspansi penghiliran sawit dan tambahan pendanaan perseroan dalam jangka panjang.

Chief Financial Officer (CFO) SSMS Nicholas J. Whittle menjelaskan restrukturisasi bisnis dilaksanakan dengan melihat kondisi pasar crude palm oil (CPO) yang tidak menentu dikarenakan kebijakan Renewable Energy Direction II (RED II) yang ditetapkan Uni Eropa sekaligus perang dagang antara China dan Amerika Serikat. Akibat kedua hambatan itu, harga CPO terkoreksi sampai menyentuh RM 1988/ton.

“Kami lihat 2018 sebagai tahun yang penting bagi perseroan terhadap agenda restrukturisasi. Memang agak rumit tapi saya sudah membuka semuanya,” katanya pada Selasa (25/6/2019).

Whittle menambahkan, keadaan tahun ini tidak akan jauh berbeda baik dari iklim bisnis perkebunan atau aspek harga secara global. Menurutnya, dengan restrukturisasi setidaknya ada tiga hal yang bisa dilancarkan oleh perseroan untuk meningkatkan skala pendapatan. Terkait dengan bisnis hulu yang selama ini dilakoni SSMS, menurutnya, itu akan sampai pada titik jenuh. Hal tersebut tercermin dari harga yang enggan meroket.

Pasar CPO, lanjutnya, akan terbelah menjadi dua segmen yaitu biodiesel dan konsumer. Mungkin dengan kebijakan pemerintah yang mendukung penggunaan biodiesel akan ada masukan tambahan yang bisa diraih. Akan tetapi, dia menilai itu tidak akan cukup mendongkrak pendapatan secara signifikan. Dengan demikian, restrukturisasi dari hulu ke hilir perlu dilakukan, utamanya dengan memproduksi sustainable CPO supaya ada insentif.

Apalagi, lanjutnya, 51% ekspor CPO untuk memenuhi kebutuhan biodiesel Uni Eropa. Dengan restrukturisasi, SSMS berharap bisa menembus pasar Eropa dengan mulus.

“Jadi dengan restrukturisai ini pertama yang kita akan lakukan integrasi vertikal dan usaha hilir yg sudah ada di dalam CBI Grup akan terintegrasi. Tetapi kita sadar tidak bisa konsolidasi kedua unit karena masalah keberlanjutan jadi kita akan menetapkan skema keberlanjutan sebagai poin penting restrukrisasi,” katanya. 

Sementara itu, SSMS mencatatkan mencatat kenaikan produksi TBS 33,3% produksi TBS secara tahunan dari 1,26 juta ton pada 2017 menjadi 1,62 juta ton pada 2018. Produksi CPO pun meningkat sebesar 29,5% yoy dari dari 343.000 ton pada 2017 menjadi 444.000 ton pada 2018.

Whittle menyebut peningkatan produksi memungkinkan SSMS untuk mengatasi beberapa dampak buruk dari tantangan di seluruh industri, seperti melemahnya harga CPO, debat biodiesel di Uni Eropa, dan tarif impor India yang tinggi. Menurutnya, SSMS berhasil mempertahankan penjualan dan laba bersih yang masing-masing pada di tingkat yang sehat yaitu Rp3,71 triliundan Rp86,77 miliar.

“Hasil CPO kami adalah yang tertinggi di industri. Ini mencatat lompatan dari 5,4 CPO ton/ha pada 2017 menjadi 5,9 CPO ton/Ha pada 2018 atau 12% yoy. Ditambah dengan perkebunan kami yang efisien dan biaya tunai yang rendah, kami tetap optimis di tahun 2019. Perseroan juga mengantisipasi peningkatan produksi buah dari kebun yang siap panen dengan adanyapenambahan dua pabrik CPO baru,” katanya.

Sebelumnya, restrukturisasi atau transaksi afiliasi tersebut melibatkan anak-anak usaha CBI dan SSMS, seperti PT Kalimantan Sawit Abadi (KSA), PT Mitra Mendawai Sejati (MMS), PT Tanjung Sawit Abadi (TSA), PT Sawit Multi Utama (SMU), PT Menteng Kencana Mas (MKM), dan PT Mirza Pratama Putra (MPP).

Rencananya, keenam anak usaha tersebut akan mengalihkan piutangnya ke SSMS dengan bunga sebesar 11% per tahun dan jangka waktu 15 tahun setelah perjanjian. Perjanjian sebelumnya sudah diteken pada 15 April 2019.

Selain pengalihan piutang, SSMS berencana membeli saham PT Surya Borneo Industri (SBI) senilai Rp738,30 miliar. Dengan demikian, kepemikan SSMS di SBI meningkat menjadi 49%.

Berdasarkan analisis manajemen, proyeksi jumlah laba tahun berjalan SSMS pada 2019—2023 sebelum rencana transaksi adalah sebesar Rp 4,37 triliun . Setelah rencana transaksi, laba tahun berjalan selama 5 tahun itu meningkat menjadi Rp4,58 triliun.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, sawit sumbermas sarana

Editor : Riendy Astria
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top