Sentul City (BKSL) Kantongi Marketing Sales Rp430 Miliar

Emiten properti, PT Sentul City Tbk. mengantongi marketing sales sekitar Rp430 miliar dari penjualan apartemen Opus Park dan Saffron Nobel.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  07:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Emiten properti, PT Sentul City Tbk. (BKSL) mengantongi marketing sales sekitar Rp430 miliar dari penjualan apartemen Opus Park dan Saffron Nobel.

Alfian Mujani, Head Of Corporate Communication & Government Relation Sentul City mengungkapkan, hingga pertengan Juni 2019, jumlah unit di Opus Park telah terjual sebanyak 155 unit, dengan nilai Rp230,4 miliar.

Dia menambahkan, marketing sales Saffron Nobel juga hampir mendekati Opus Park, atau sekitar Rp200 miliar. Menurutnya, daya beli masyarakat untuk produk properti mulai pulih menjelang akhir semester I.

Menurutnya, ada beberapa faktor pertumbuhan penjualan perseroan pada semester I/2019. Pertama, mulai dioperasikannya LRT Jakarta-Bogor yg stasiunnya berada di sentul.

Kedua, mulai beroperasinya AEON Mall dan IKEA terbesar mulai Desember tahun ini. Baginya, walaupun daya beli belum terlalu kuat tetapi animo kunjungan calon pembeli unit hunian vertikal yang mulai bergairah.

"Sales report Opus Park hinga 13 Juni 2019 sebanyak 155 unit, dengan nilai Rp230,4 miliar. Saffron Nobel juga mirip-mirip, lebih kecil sedikit [sekitar Rp200 miliar]," katanya akhir pekan silam.

Saat ini, emiten bersandi saham BKSL tengah mengembangkan superblok Centerra di Central Business Distric (CBD) Sentul City, Bogor, seluas 7,8 hektare. Superblok Centerra itu terdiri atas AEON Mall, Apartemen Verdura, Saffron Noble Residence, Opus Park Towers, Gedung Perkantoran Centerra, AEON Mall, dan Condotel.

Di sisi lain, Alfian menilai sinyal positif dari luar negeri bakal memberikan dampak positif bagi domestik. Dia menilai, rencana penurunan suku bunga The Fed bakal bisa memberikan angin segar bagi bisnis properti.

Menurutnya, penurunan suku bunga The Fed pasti mempengaruhi kebijakan BI dalam menentukan suku bunga bank nasional. Tingkat suku bunga yang relatif kompetitif akan menjadi salah satu faktor yang menggairakan pasar properti.

Alfian menilai, pemerintah juga harus melihat iklim dunia usaha secara nasional. Bila iklim usaha belum bergairah atau bahkan menurun, maka penurunan suku bunga The Fed dan BI Rate tidak akan banyak berpengaruh terhadap bisnis properti.

"Tentu kami berharap penurunan bunga The Fed dan suku bunga BI memberikan angin segar bagi bisnis properti," ungkapnya.

Pada tahun ini, Sentul City memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sekitar 10%-15%, dimana penopangnya berasal dari penjual apartement dan perumahan di Sentul City.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, sentul city

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top