Bima Sakti Pertiwi Tawarkan Harga IPO Rp100-Rp200 Per Saham

Perusahaan pengelola mal di Pekanbaru, PT Bima Sakti Pertiwi menawarkan harga perdana saham sekitar Rp100-Rp200 per saham.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  15:25 WIB
Bima Sakti Pertiwi Tawarkan Harga IPO Rp100-Rp200 Per Saham
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Perusahaan pengelola mal di Pekanbaru, PT Bima Sakti Pertiwi menawarkan harga perdana saham sekitar Rp100-Rp200 per saham.

Selaku penjamin pelaksana emisi efek, VP Investment Bank Danatama Makmur Sekuritas Jonni Effendy mengungkapkan, dengan harga tersebut maka valuasi Bima Sakti Pertiwi sekitar 27 kali--50 kali.

Dia mengklaim, bisnis calon emiten ini lebih baik dibandingkan dengan industri properti yang memiliki price per earning (PE) negatif.

"Harga sekitar Rp100-Rp200 per saham, dengan PE 27 kali--50 kali," katanya di Jakarta, Jumat (14/6/2019).

Menurutnya, di pasar modal belum ada yang memiliki konsep bisnis seperti Bima Sakti Pertiwi. Perseroan memproyeksikan pendapatan pada 2019 dan 2020 masing Rp84 miliar dan Rp94 miliar.

Pada 2018, pendapatan yang dikantongi calon emiten ini mencapai Rp75,25 miliar, atau turun 8,35% dari posisi Rp82,11 miliar pada 2017. Pendapatan perseroan terdiri dari penyewaan ruang usaha sebesa Rp34,6 miliar dan segmen pengelolaan gedung senilai Rp40,6 miliar.

Segmen penyewaan ruang usaha perseroan berasal dari Mal Pekanbaru yang telah beroperasi sejal 2003, dengan luas bangunan 55.244 m2. Mal ini memiliki 500 kios. Mal ini menjadi pendapatan berulang perseroan.

Selain mal Pekanbaru, perseroan juga memiliki gedung bertingkat 8, yang berada di sebelah mal tersebut, dengan luas 17.407 m2. Gedung ini disewakan kepada PT Jatra Mandiri Indonesia sampai 2029.

Perusahaan asal Pekanbaru ini juga mencatatkan laba kotor yang menurun dari posisi Rp39,48 miliar pada 2017 menjadi Rp32,32 miliar pada 2018.

Sementara itu, laba usaha perseroan mencapai Rp341,88 miliar, melejit dari posisi Rp26,27 miliar. Peningkatan laba usaha yang signifikan tersebut karena adanya revaluasi aset senilai Rp324,5 miliar.

Target laba usaha perseroan pada 2019 dan 2020 masing senilai Rp23 miliar dan Rp34 miliar. Target EBITDA pada 2019 dan 2020 masing-masing senilai Rp33 miliar-Rp44 miliar.

Direktur Bima Sakti Pertiwi Leonardus Sutarman mengatakan, perseroan akan melepas sebanyak 625 juta saham atau setar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetorkan, dengan target dana senilai Rp63 miliar.

Dana hasil intial public offering (IPO) akan digunakan sebesar 88% untuk belanja modal, di mana 66% untuk penambahan serta perbaikan fasilitas gedung karena usia gedung perseroan telah lebih dari 15 tahun. 

Sisa dana IPO tersebut akan digunakan untuk pembelian tanah yang berlokasi di belakang area mal Pekanbaru seluas 1.200 m2 dengan tujuan pengembangan usaha di masa yang akan datang.

Saat ini, total landbank yang dimiliki Bima Sakti Pertimi mencapai 8.000m2. Dia menambahkan, landbank akan digunakan untuk membangun apartemen pada 2023 yang bakal tersambung dengan pusat perbelanjaan.

"Gambar untuk pembangunan apartemen sudah ada, kami juga belum melakukan feasibility study. Kami akan lakukan right issue. Kami juga akan melakukan pembangunan extention mall," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top