Rombak Strategi, Sidomulyo Selaras (SDMU) Optimistis Cetak Laba Tahun ini

PT Sidomulyo Selaras Tbk. optimistis dapat mencetak laba pada tahun ini setelah pada dua tahun berturut-turut merugi.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 14 Juni 2019  |  08:03 WIB
Rombak Strategi, Sidomulyo Selaras (SDMU) Optimistis Cetak Laba Tahun ini
Direktur Utama PT Sidomulyo Selaras Tbk Tjoe Mien Sasminto (kedua kiri), berbincangdengan Direktur Erwin Hardiyanto (kiri), Komisaris Sri Hari Murti (kedua kanan), dan Komisaris Utama Sugiharto, usai rapat umum pemegang saham dan luar biasa perseroan, di Jakarta, Selasa (26/2/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA — PT Sidomulyo Selaras Tbk. optimistis dapat mencetak laba pada tahun ini setelah pada 2 tahun berturut-turut merugi.

Direktur Keuangan Sidomulyo Selaras Erwin Hardiyanto mengatakan bahwa pada tahun ini kinerja perseroan dinilai akan lebih baik. Pasalnya, kondisi bisnis pada tahun ini dinilai lebih baik.

“Target kami supaya tidak berada lagi dalam zona merah. Karena sudah dua periode kami posisinya rugi sehingga 2019 ini tidak rugi sehingga mencapai hasil positif,” ujarnya di Jakarta, Kamis (13/6/2019).

Selain itu, perseroan telah melakukan beberapa perubahan strategi yang dapat mendongkrak kinerja.

Pada tahun ini, perseroan akan mengajukan tambahan kuota untuk impor ban truk sehingga dapat menghemat biaya perawatan armada.

Upaya lain yang dilakukan perseroan yakni dengan meminimalisir kecelakaan kerja dan mengefisiensikan waktu pengiriman. “Dengan itu kami bisa lebih hemat 30%,” jelasnya.

Sepanjang kuartal I/2019 emiten berkode saham SDMU itu telah berhasil memperkecil kerugian menjadi Rp312,79 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp11,25 miliar.

Selain strategi yang diterapkan perseroan, kinerja positif itu dikontribusikan oleh membaiknya harga minyak, sehingga berimbas cukup signifikan.

Harga minyak dunia menjadi salah satu faktor penentu kinerja SDMU. Pasalnya, perseroan bisnis utama perseroan adalah pengangkutan minyak dan bahan kimia dengan porsi 60% dan 40%.

Kerugian yang dialami beruntun oleh perseroan turut dipengaruhi oleh sentimen tersebut.

“Pada 2015–2016 harga minyak turun drastis, sehingga itu berdampak ke turunnya volume pengangkutan dan pendapatan yang drastis,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sidomulyo selaras, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top