Insiden Selat Hormuz Dongkrak Minyak, Harga Karet Terangkat

Harga karet di bursa Shanghai dan Tokyo berhasil mengikis sebagian pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (13/6/2019), didongkrak rebound harga minyak mentah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  16:19 WIB
Insiden Selat Hormuz Dongkrak Minyak, Harga Karet Terangkat
Bursa Tocom - Akio/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet di bursa Shanghai dan Tokyo berhasil mengikis sebagian pelemahannya pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (13/6/2019), didongkrak rebound harga minyak mentah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif September 2019 di Shanghai Futures Exchange ditutup turun 80 poin atau 0,65 persen di level 12.215 yuan per ton setelah dibuka dengan penurunan tajam 115 poin atau 0,94 persen di posisi 12.180.

Pelemahan harga karet berlanjut untuk hari kedua setelah pada perdagangan Rabu (12/6) melemah 50 poin atau 0,41 persen dan berakhir di level 12.295.

Sejalan dengan karet Shanghai, harga karet untuk kontrak teraktif November 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) ditutup turun 0,15 persen atau 0,30 poin di level 204,60 yen per kg, setelah dibuka melemah 0,40 poin atau 0,2 persen di posisi 204,50.

Sementara itu, harga minyak acuan global Brent untuk kontrak Agustus 2019 terpantau melonjak 2,48 persen atau 1,49 poin ke level US$61,46 per barel pukul 15.12 WIB.

Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli 2019 melonjak 2,33 persen atau 1,19 poin ke level US$52,33 per barel.

Pada perdagangan Rabu (12/6), baik harga minyak WTI dan Brent anjlok sekitar 4 persen. Keduanya sempat melanjutkan pelemahan akibat tensi perdagangan AS-China dan mempengaruhi pergerakan harga karet.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan tidak memberi batas waktu (deadline) bagi China untuk kembali melakukan perundingan perdagangan.

Pada Selasa (11/6/2019) Trump mengatakan menahan kesepakatan perdagangan dengan China dan tidak akan menuntaskan perjanjian kecuali pemerintah China kembali mengikuti ketentuan-ketentuan yang dinegosiasikan sebelumnya.

Komentarnya itu dilayangkan hanya berselang sehari setelah ia mengancam akan menaikkan tarif impor jika Presiden China Xi Jinping tidak bertemu dengannya di sela-sela KTT G20 yang akan berlangsung pada 28-29 Juni mendatang di Jepang.

Namun, harga minyak berhasil bangkit dari pelemahannya setelah dua kapal tanker dilaporkan rusak dalam sebuah insiden di dekat Selat Hormuz.

Harga minyak dunia kembali bergelora, usai dugaan serangan terhadap dua tanker di Teluk Oman, wilayah yang berdekatan dengan Iran dan Selat Hormuz, seperti dilansir dari Reuters.

Kedua tanker itu adalah Front Altair berbendera Kepulauan Marshal, dan Kokuka Courageous berbendera Panama. Dalam peristiwa ini kapal Front Altair tengah membawa naphtha dan Kokuka Courageous membawa methanol.

Penyewa tanker Front Altair mengatakan, kapal dicurigai terkena torpedo. Sementara itu, tanker Kokuka mengalami kerusakaan diduga berasal dari serangan, tetapi muatannya masih utuh.

Seperti diketahui, karet sintetis yang menjadi bahan subtitusi utama karet alam dibuat dari polimer turunan minyak, sehingga pergerakan harganya jelas dipengaruhi harga minyak yang menjadi bahan baku asalnya.

Pergerakan Harga Karet Kontrak September 2019 di Shanghai

Tanggal                              

Harga (Yuan/ton)            

Perubahan (persen)

13/6/2019

12.215

-0,65

12/6/2019

12.295

-0,41

11/6/2019

12.345

+0,12

10/6/2019

12.330

+1,82

6/6/2019

12.110

+0,71

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top