Cadangan Devisa Turun, IHSG Melemah pada Akhir Sesi I

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,22 persen atau 13,70 poin ke level 6.262,48 pada akhir sesi I, meskipun sempat dibuka menguat 0,1 persen atau 6,43 poin ke level 6.282,61.
Cadangan Devisa Turun, IHSG Melemah pada Akhir Sesi I Aprianto Cahyo Nugroho | 13 Juni 2019 13:04 WIB
Cadangan Devisa Turun, IHSG Melemah pada Akhir Sesi I
Karyawan berkomunikasi di dekat monitor informasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (11/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (13/6/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,22 persen atau 13,70 poin ke level 6.262,48 pada akhir sesi I, meskipun sempat dibuka menguat 0,1 persen atau 6,43 poin ke level 6.282,61.

Sepanjang perdagangan pagi ini, IHSG bergerak di level 6.260,01 – 6.284,46. Adapun pada perdagangan kemarin, Rabu (12/6), IHSG ditutup melemah 0,47 persen atau 29,81 poin di level 6.276,18.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona merah, didorong sektor industri dasar yang melemah 0,48 persen, disusul aneka industry yang turun 0,34 persen.

Di sisi lain, sektor properti dan infrastruktur yang masing-masing menguat 0,3 persen dan 0,26 persen menahan pelemahan IHSG lebih lanjut.

Sebanyak 175 saham menguat, 196 saham melemah, dan 263  saham stagnan dari 634 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang masing-masing melemah 0,86 persen dan 0,95 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG siang ini.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2019 terpangkas sebesar US$4 miliar menjadi US$120,3 miliar, turun dibandingkan dengan posisi akhir April 2019 yang mencapai US$124,3 miliar. 

Kepala Departmen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko menuturkan penurunan cadangan devisa pada Mei 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu juga dipengaruhi berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia sebagai antisipasi kebutuhan likuiditas valas terkait siklus pembayaran dividen beberapa perusahaan asing dan menjelang libur panjang Lebaran. 

Namun, BI menilai posisi cadangan devisa Mei 2019 tetap cukup tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2019 yang sebesar US$124,3 miliar. 

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Onny dalam siaran pers, Selasa (13/06/2019).

IHSG melemah di saat indeks saham lainnya di Asia bergerak negatif. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 1,12 persen dan 0,80 persen, indeks Hang Seng merosot 0,96 persen, sedangkan indeks Shanghai Composiote melemah 0,18 persen.

Dilansir Reuters, bursa saham Asia melemah karena pasar saham Hong Kong turun untuk sesi kedua berturut-turut menyusul protes besar-besaran menentang kebijakan ekstradisi.

Harapan bahwa Amerika Serikat (AS) dan China akan mencapai kesepakatan di sela-sela konferensi tingkat tinggi negara-negara G20 di Osaka pada 28-29 Juni mendatang telah memudar.

"Bahkan tidak ada rencana pertemuan bilateral tingkat menteri jelang KTT G20. Anda tidak bisa mengharapkan kesepakatan besar," kata Hirokazu Kabeya, analis pasar global di Daiwa Securities, seperti dikutip Reuters.

Tekanan jual di Hong Kong terjadi setelah demonstrasi massa menentang undang-undang yang memungkinkan warga diekstradisi ke China memicu protes dan kerusuhan terburuk sejak Inggris mengembalikannya ke pemerintahan China pada tahun 1997.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top