Saham-Saham Baru Tampil Apik, Diburu Investor

Performa harga saham sebagian besar emiten baru pada awal tahun ini tergolong fantastis seiring dengan tingginya permintaan investor. Hal ini menjadi sinyal positif bagi calon emiten untuk segera mengeksekusi rencana go public.
Tim Bisnis Indonesia
Tim Bisnis Indonesia - Bisnis.com 12 Juni 2019  |  13:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Performa harga saham sebagian besar emiten baru pada awal tahun ini tergolong fantastis seiring dengan tingginya permintaan investor. Hal ini menjadi sinyal positif bagi calon emiten untuk segera mengeksekusi rencana go public.

Kinerja saham baru menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (12/6/2019). Berikut laporannya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari 13 emiten yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia, sebanyak 9 emiten mencatatkan kenaikan harga saham dengan kisaran 20% hingga 1.600%. (Lihat grafis)

Salah satu emiten yang mencatatkan lonjakan harga saham yang fantastis adalah PT Citra Putra Reality Tbk. (CLAY)—perusahaan properti milik pengusaha dan politisi Oesman Sapta Odang melalui bendera OSO Group—yang meroket 1.661% sejak IPO.

Head of Research MNC Sekuritas Thendra Crisnanda mengatakan bahwa lonjakan harga saham emiten yang melakukan initial public offering (IPO) disebabkan oleh permintaan investor yang lebih besar dibandingkan dengan pasokan emiten baru.

Selain permintaan yang tinggi, sambungnya, kenaikan harga saham emiten anyar juga didukung oleh strategi stabilisasi harga yang baik setelah IPO, yaitu melalui upaya meningkatkan kinerja perusahaan.

“Faktor penopang lainnya adalah jenis usaha, kinerja perusahaan, penggunaan dana IPO, dan lain-lain,” katanya kepada Bisnis, Selasa (11/6/2019).

Menurutnya, saat ini minat investor untuk berinvestasi di pasar saham mulai membaik, sejalan dengan optimisme bahwa kondisi perekonomian bakal makin kokoh. Hal ini juga didukung oleh keputusan S&P meningkatkan peringkat Indonesia menjadi dari BBB- menjadi BBB.

Kondisi politik nasional yang lebih kondusif, lanjutnya, akan menambah keyakinan investor untuk menanamkan modal di pasar saham Indonesia.

Wawan Hendrayana, Head of Investment Research Infovesta Utama, menuturkan bahwa penguatan saham-saham IPO ditopang oleh kepercayaan investor terhadap perusahaan terkait.

Dia mencontohkan, lonjakan harga saham CLAY mengindikasikan bahwa investor optimistis bahwa proyek yang dikerjakan emiten itu akan mendatangkan keuntungan.

Investor, sambungnya, masih memperhatikan kinerja perusahaan yang IPO. Emiten-emiten yang memiliki kinerja buruk akan ditinggalkan investor, sehingga berdampak terhadap harga sahamnya.

Bisnis mencatat terdapat empat perusahaan yang harga sahamnya anjlok setelah IPO, seperti PT Armada Berjaya Trans Tbk. (JAYA) yang tergerus 55%. Wawan mengatakan, koreksi ini disebabkan kinerja emiten itu yang belum positif hingga kuartal I/2019.

Berdasarkan laporan keuangan JAYA, perseroan membukukan rugi bersih senilai Rp1,91 miliar pada tahun lalu, berkebalikan dibandingkan dengan realisasi pada tahun sebelumnya yang masih mencatatkan laba bersih Rp755,62 juta.

Selain faktor kinerja, lanjutnya, kondisi pasar saham yang tertekan beberapa waktu lalu turut menekan harga saham IPO. Oleh karena itu, investor tetap harus memperhatikan tren yang terjadi di pasar saham.

“Dari penelitian yang pernah saya amati tentang tren saham IPO, apabila pada hari pertama harga sahamnya positif, bisa di-hold hingga 1 bulan ke depan. Namun, jika hari pertama harga sahamnya turun, maka akan cenderung turun terus,” ungkapnya.

Janson Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa sebelum memilih saham-saham IPO, para investor harus memperhatikan kondisi industri yang digeluti emiten-emiten itu.

Menurutnya, investor jangan sampai terjebak dalam euforia kenaikan harga saham-saham IPO dan tetap menganalisis kondisi fundamental perusahaan.

CALON EMITEN

Adapun, dari sisi pasokan, investor sebaiknya bersiap menyambut kedatangan 25 calon emiten yang telah menyampaikan rencana IPO ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

I Gede Nyoman Yetna Setya, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, menuturkan bahwa dari 25 calon emiten itu, sebagian besar menggunakan laporan keuangan Desember 2018. Pada tahun ini, BEI menargetkan sebanyak 75 perusahaan melakukan IPO.

“Mereka kemungkinan akan dikejar waktu dan kami akan meyakinkan mereka untuk masuk .”

Menurutnya, tahun politik tidak memberikan dampak negatif terhadap rencana calon emiten untuk IPO. Kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG), lanjutnya, merupakan momentum yang tepat bagi calon emiten untuk go public.

Kemarin, IHSG ditutup menguat 0,26% ke level 6.305,99. Aksi beli bersih oleh investor asing berlanjut pada perdagangan kemarin, yaitu senilai Rp241,49 miliar.

Direktur Utama Lotus Andalan Sekuritas Wientoro Prasetyo mengungkapkan, calon emiten yang sudah masuk dalam pipeline sebanyak empat perusahaan.

“Ada produsen makanan dengan target dana senilai Rp200 miliar. Calon emiten ini akan menggunakan buku April 2019.”

Sejumlah entitas anak badan usaha milik negara pun berencana IPO. PT Adhi Karya (Persero) Tbk., misalnya, sedang mempersiapkan PT Adhi Commuter Properti untuk melantai di BEI.

Direktur Keuangan Adhi Karya Entus Asnawi M. menuturkan, Adhi Commuter Properti menargetkan dana Rp2 triliun hingga Rp2,5 triliun melalui aksi korporasi tersebut. “Kondisi market akan menjadi penentu,” katanya.

PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) juga tengah mempersiapkan IPO entitas anak, PT Pelabuhan Tanjung Priok. Menurut Direktur Keuangan Pelabuhan Indonesia II Widyaka Nusapati, aksi ini telah masuk ke dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan 2019. (Muhammad Ridwan/Novita S. Simamora/Nirmala Aninda/M. Nurhadi Pratomo)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, kinerja emiten

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top