Bijih Besi Tembus US$100 per ton, Analis Revisi Proyeksi Harga

Harga bijih besi berjangka bergerak fluktuatif, tetapi tetap mempertahankan posisi di atas level US$100 per ton seiring dengan prospek defisit pasokan yang masih membayangi pasar.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  14:05 WIB
Bijih Besi Tembus US$100 per ton, Analis Revisi Proyeksi Harga
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga bijih besi berjangka bergerak fluktuatif, tetapi tetap mempertahankan posisi di atas level US$100 per ton seiring dengan prospek defisit pasokan yang masih membayangi pasar.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan bahwa sinyal defisit pasokan bijih besi masih menjadi sentimen utama laju bijih besi yang masih diproyeksi berada di jalur bullish.

Pasokan domestik China kemungkinan akan semakin ketat karena tambang swasta dalam negeri yang berskala kecil telah memangkas output atau ditutup karena regulasi China terkait perlindungan lingkungan.

Selain itu, pemerintah Brazil mencatat hanya mengekspor 16,17 juta ton dalam 3 minggu pertama bulan Mei atau 1,35 juta ton per hari.

"Akan terdapat banyak kenaikan harga untuk bijih besi yang didukung oleh produksi yang lesu, penurunan persedian, dan pasar perumahan yang sehat," ujar Helen seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (23/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (23/5/2019) pukul 13.24 WIB, harga bijih besi di bursa Singapura bergerak stabil di level US$100,91 per ton. Secara year to date, harga telah menanjak 39,13%.

Kemudian, harga bijih besi di bursa Dalian bergerak menguat 1,25% menjadi 731 yuan per ton. Sepanjang tahun berjalan, harga bijih besi telah bergerak menguat 48,75%.

Sementara itu, perusahaan keuangan Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga bijih besi sepanjang tahun karena melihat adanya kenaikan tidak terduga pada permintaan baja China yang menambah beban pasokan lebih lanjut.

Goldman Sachs menaikkan prospek harga bijih besi menjadi US$91 per ton hingga akhir tahun dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar US$81 per ton.

Analis Goldman Sachs Hui Shan mengatakan bahwa konsumsi baja China secara mengejutkan akan meningkat sementara produksi dari salah satu produsen terbesar di dunia, Vale, terus melemah.

"Kami memperkirakan penurunan berkelanjutan dalam persediaan sehingga menajamkan kurva harga berjangka dan margin pabrik baja yang sehat dapat menaikkan kelar premi," ujar Hui Shan dalam laporannya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (23/5/2019).

Kapasitas produksi Vale SA telah turun 93 juta ton setelah kecelakaan mematikan terjadi di salah satu tambangnya.

Penambang yang berbasis di Rio de Janerio tersebut mengatakan, setidaknya akan membutuhkan 2 hingga 3 tahun untuk mencapai target produksi sebelumnya, yaitu sebesar 400 juta ton.

Sejak kecelakaan tersebut, perusahaan tambang lainnya pun tengah berjuang untuk mengisi kekosongan pasokan dari Vale SA.

Produksi Baja China

Namun demikian, produksi baja China masih mencatatkan kenaikan di tengah lingkungan makro yang semakin menantang dengan pengetatan kredit dan ketidakpastian perang dagang.

Produksi baja China melonjak 6,6% pada 2018 dan telah naik 10% dalam 4 bulan pertama tahun ini. Kenaikan tersebut terjadi secara konsisten dengan dipacu penguatan awal sektor perumahan.

"Meskipun tim properti kami masih memperkirakan perumahan mulai melambat akhir tahun ini, pemerintah China kemungkinan akan menjaga perlambatan secara bertahap untuk menjaga stabilitas pertumbuhan," kata dia.

Ketatnya pasokan juga telah diperburuk oleh permintaan kuat untuk bijih besi berkadar tinggi yang diproduksi oleh Vale.

Meski China telah menaikkan produksi bijih besi dengan kualitas serupa, tetapi hal tersebut tidak cukup untuk mengimbangi gangguan pasokan dari Vale.

Goldman memprediksi harga bijih besi patokan kemungkinan akan tetap bergerak di US$100 per ton pada Mei dan juni sebelum secara bertahap bergerak turun ke level US$90 per ton pada akhir tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, bijih besi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top