Impor Bijih Besi China Turun ke Level Terendah dalam 18 Bulan

Impor bijih besi China pada April turun ke level terendah dalam 18 bulan karena cuaca buruk di Brasil, pemasok terbesar kedua untuk China, mengganggu pengiriman.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  08:33 WIB
Impor Bijih Besi China Turun ke Level Terendah dalam 18 Bulan
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Impor bijih besi China pada April turun ke level terendah dalam 18 bulan karena cuaca buruk di Brasil, pemasok terbesar kedua untuk China, mengganggu pengiriman.

Berdasarkan data Administrasi Umum Kepabeanan China, impor bijih besi, bahan baku utama pembuatan baja, mencapai 80,77 juta ton pada bulan lalu, terendah sejak Oktober 2017.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 86,42 juta ton pada Maret dan 82,92 juta ton pada April 2018.

Sementara itu, selama empat bulan pertama 2019, China hanya mengimpor 340,21 juta ton bijih besi, turun 3,7% dari 353,32 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Pelacakan kapal dan data pelabuhan yang dihimpun oleh Refinitiv menunjukkan, pengiriman bijih besi dari Brasil ke China telah menurun tajam sejak Januari setelah bencana bendungan tailing yang menewaskan ratusan orang.

Mengutip Reuters, Vale telah menutup 92,8 juta ton dari kapasitas penambangan bijih besi tahunannya sebesar 400 juta ton dan penutupannya diperkirakan berlanjut hingga 2020.

Operasioanal tambang juga juga terganggu oleh badai besar di Brasil utara, wilayah penambangan bijih besi utama, pada akhir Maret," mengutip laporan Reuters, Kamis (9/5/2019).

Data dari Kementerian Perdagangan Brasil menunjukkan pekan lalu bahwa negara itu mengirim 18,34 juta ton bijih besi pada April, turun 17% dari Maret dan turun 29% dari periode yang sama tahun lalu.

Walaupun demikian, para analis memperkirakan permintaan bijih besi di China akan turun dalam beberapa bulan mendatang karena meningkatnya langkah-langkah kebijakan ramah lingkungan di beberapa kota pembuat baja utama.

Pemerintah kota Tangshan, kota penghasil baja terbesar di China, pekan lalu mengeluarkan pernyataan yang memerintahkan pabrik untuk mengurangi operasi pada Mei sekitar 30% dari 20% pada April.

Hal tersebut akan memengaruhi sekitar 120.000 ton produksi baja mentah dan permintaan sebesar 200.000 ton bijih besi.

Adapun, pada perdagangan Rabu (8/5/2019), harga bijih besi di bursa Singapura ditutup melemah 0,77% menjadi US$91,90 per ton. Sementara itu, harga bijih besi di bursa Dalian ditutup melemah 1% menjadi 644 yuan per ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, bijih besi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top