Neraca Perdagangan Defisit, IHSG Melemah ke Level 5.900 an

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 1,49 persen atau 90,32 poin ke level 5.980,88, meskipun dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,34 persen atau 20,44 poin ke level 6.091,64.
Aprianto Cahyo Nugroho | 15 Mei 2019 17:46 WIB
Karyawan beraktivvitas di dekat papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah sekaligus meninggalkan level 6.000 pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (15/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 1,49 persen atau 90,32 poin ke level 5.980,88, meskipun dibuka di zona hijau dengan penguatan 0,34 persen atau 20,44 poin ke level 6.091,64.

IHSG melanjutkan pelemahan di hari ketiga, setelah pada pada perdagangan Selasa (14/5), IHSG ditutup melemah 1,05 persen atau 64,19 poin di level 6.071,20. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 5.980,88 – 6.107,44.

Delapan dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, didorong oleh sektor infrastruktur yang melemah 2,80 persen dan disusul sektor industri dasar yang melemah 2,46 persen.

Di sisi lain, sektor pertanian menguat 0,09 persen dan menahan laju pelemahan IHSG lebih lanjut hari ini.

Dari 632 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 115 saham menguat, 287 saham melemah, dan 230 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) yang masing-masing melemah 3,95 persen dan 2,66 persen menjadi penekan utama terhadap pelemahan IHSG.

Pelemahan IHSG sejalan dengan rilis data neraca perdagangan Indonesia oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar. Menurut BPS, defisit April ini merupakan yang terbesar sejak Juli 2013.

Defisit ini disebabkan oleh dari posisi neraca ekspor yang tercatat senilai US$12,60 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor yang mencapai US$15,10 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto melihat defisit yang mencapai US$2,5 miliar ini disebabkan oleh defisit di neraca migas yang senilai US$1,49 miliar.

"Hal ini disebabkan karena hasil minyak yang mengalami defisit lumayan dalam," ungkap Suhariyanto, Rabu (15/05/2019). Hasil minyak per April 2019 mengalami defisit hingga US$1,32 miliar.

IHSG melemah di saat mayoritas bursa saham lainnya di Asia mulai pulih dan rebound dari level terendah 3,5 bulan, menyusul perubahan retorika Presiden AS Donald Trump.

Indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing menguat 1,91 persen dan 2,25 persen, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,52 persen.

Sementara itu, indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang menguat masing-masing 0,58 persen dan 0,60 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,53 persen.

 

 

Saham-saham penekan IHSG:
KodePenurunan (persen)

BBRI

-3,95

TLKM

-2,66

FREN

-14,57

UNVR

-1,98

Saham-saham pendorong IHSG:
KodeKenaikan (persen)

FIRE

+19,82

CASA

+8,89

BNLI

+3,87

POSA

+24,87

 

Sumber: Bloomberg

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup