Jadi Polemik di Lapkeu GIAA, Mahata Yakin Bisa Raup US$1,5 Miliar

Kepercayaan diri Mahata bukan semata atas hitung-hitungan di atas kertas. Pasalnya, di belakang Mahata, seperti diakui Thomas, ada beberapa mother vessel yang siap mendukung Mahata.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  05:59 WIB
Jadi Polemik di Lapkeu GIAA, Mahata Yakin Bisa Raup US$1,5 Miliar
Pesawat Citilink (atas) saat akan mendarat dan pesawat Garuda Indonesia yang akan lepas landas di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (18/2/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam beberapa pekan terakhir, nama Mahata Aero Teknologi begitu populer di industri penerbangan nasional. Perusahaan rintisan itu terseret ke dalam pusaran polemik laporan keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA)

Pasalnya, bagaimana mungkin Mahata sebuah perusahaan yang baru didirikan pada 3 November 2017 dengan modal tidak lebih dari Rp10 miliar, berani menandatangani kerja sama dengan Garuda. Dan, dari kerja sama itu Mahata menandatangani utang sebesar US$239 juta kepada maskapai pelat merah itu, dan oleh Garuda dicatatkan dalam Laporan Keuangan 2018 pada kolom pendapatan. 

Direktur Mahata Aero Teknologi Thomas Widodo, dalam keterangan tertulis, menyatakan bahwa Mahata berani menandatangani kerja sama dengan konsekuensi mencatat utang US$239 juta kepada Garuda dalam periode 15 tahun ke depan. Alasannya, dalam hitung-hitungan konservatif Mahata, model bisnis ini dalam 15 tahun ke depan akan menghasilkan pendapatan tidak kurang dari US$1,5 miliar.

“Dari perhitungan konservatif, kami sebetulnya cukup pede dengan angka yang di Laporan Keuangan Garuda (2018), dengan konsep-konsep yang sudah kita perhitungkan, tentu saja. Secara pembukuan accounting juga sudah diperkenankan,” kata Thomas, Rabu (8/5/2019).

Kepercayaan diri Mahata bukan semata atas hitung-hitungan di atas kertas. Pasalnya, di belakang Mahata, seperti diakui Thomas, ada beberapa mother vessel yang siap mendukung.

Salah satunya dari Uni Emirat Arab yang siap mengucurkan dana sebesar US$21 juta pada tahun pertama, 2019. Dana itu akan dialokasikan untuk pengadaan infrastruktur digital di 10 pesawat Citilink.

“Kita harus meyakinkan publik bahwa ini bisnis yang make sense dengan cara kita harus membuktikannya, karena di belakang kami ada beberapa investor besar, tapi kita nggak bisa sebutkan. Seberapa yakin kita bisa make money? Cuma satu cara, prove it. Kita percaya ini bisa, walaupun kendalanya banyak.”

Direktur Mahata Aero Teknologi Thomas Widodo

Thomas melanjutkan, di era digital kelancaran komunikasi adalah sebuah kebutuhan, termasuk dalam penerbangan pesawat. Saat ini komunikasi itu tidak ada, kecuali harus membayar mahal.

Selama ini, katanya, Garuda mencoba untuk menghibur penumpang dengan menyediakan interconectivity, entertainment system dalam penerbangan. Namun, Garuda harus keluar uang untuk memasang infrastruktur di pesawat, membayar ke provider koneksi internet, dan membeli konten tayangan.

Melalui kerja sama dengan Mahata, semua biaya investasi yang harusnya dikeluarkan ke Garuda diambilalih Mahata, bahkan menghasilkan pendapatan baru bagi Garuda.

“Dari situ kita melihat satu peluang, dan ini sesuatu yang belum digarap. Inilah kenapa ide itu muncul. Ketika ide itu dikemukakan, orang-orang dari kalangan traditional advertiser, entertainment, movie, kita dibilang gila. Sama seperti Gojek pertama kali diluncurkan, itu mengubah tatanan apa yang lazimnya terjadi. Jadi ini soal cara pandang, approach. Bahkan beberapa perusahaan di luar negeri kagum dengan konsep ini, mereka ingin bergabung dengan Mahata,” kata Thomas.

Menurutnya, di Eropa model bisnis ini sudah diterapkan dalam kerja sama antara IMMFLY dengan beberapa maskapai penerbangan Eropa. Begitu juga di Amerika Serikat, dilakukan oleh Hulu (anak perusahaan Amazon) dengan maskapai Jetblue.

Lalu, bagaimana dengan pemasang iklan di inflight digital services dalam penerbangan pesawat-pesawat Garuda Group? Staf Marketing Mahata Group, Rosinsko mengatakan hingga kini sudah ada beberapa perusahaan yang sudah menyatakan berminat untuk beriklan.

Dalam hal ini, Garuda masih memiliki peluang untuk meraih pendapatan tambahan melalui sharing revenue. “Kami optimistis, model bisnis ini akan menguntungkan dan menjadi trend dalam industri penerbangan di masa depan.”

TIGA KEUNTUNGAN GARUDA

Thomas melanjutkan, melalui kerja sama antara Mahata dengan Garuda, ada tiga poin yang bisa dicatat. Pertama, Mahata mengambilalih cost dari Garuda. Kedua, Garuda mendapat income tambahan dari pembayaran Mahata. Ketiga, dari segi konsep penerbangan ber-Wifi yang sudah semakin umum, akan meningkatkan load factor penerbangan Garuda.

“Kita membantu Garuda secara financial dan promosi dari segala sisi,” katanya.

Kini Mahata juga sudah bekerja sama dengan perusahaan penyedia konektivitas internet berbasis satelit, Inmarsat. Adapun untuk pemasangan infrastruktur dan pengoperasian integrated digital system di pesawat, Mahata menggandeng Lufthansa Technology dan Lufthansa System.

“Kami telah melakukan pemasangan sistem di sebuah pesawat Citilink pada Desember 2018, dan sudah diujicobakan pada penerbangan joy flight pada 16 Januari lalu, dan sukses,” kata Thomas.

Pada tahun pertama, Mahata menargetkan pemasangan sistem di 10 pesawat Citilink. Sementara itu, untuk seluruh pesawat Garuda, Citilink, dan Sriwijaya, secara teknis akan rampung pada 2020. Namun hal itu disesuaikan dengan service bulletin yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat (Boeing dan Airbus).

Menurut Thomas, langkah itu dilakukan supaya tidak mengganggu jadwal penerbangan tiap pesawat di Garuda Group. Pemasangan infrastruktur koneksi internet dan penunjangnya di pesawat akan dilakukan saat pesawat menjalani maintenance.

“Dengan melihat kecanggihan teknologi serta prospek bisnis dari kerja sama Mahata dengan Garuda, kita harus sama-sama optimistis bahwa bisnis ini akan menjadikan Garuda Indonesia Group memiliki daya tawar yang lebih kuat dibanding maskapai lain,” kata Thomas.

Sementara itu, Garuda Indonesia akan menggelar paparan publik insidentil pada hari ini, Rabu (8/5/2019). Paparan publik tersebut adalah permintaan atas Bursa Efek Indonesia (BEI).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia, giaa

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top